Pasar Melonjak 140%, Pabrikan Global Mulai Padati Indonesia

JAKARTA — Industri otomotif nasional sedang berada di jalur cepat yang tidak bisa lagi dianggap sebelah mata oleh negara tetangga. Dalam lima tahun terakhir, laju pasar kendaraan listrik di Indonesia meroket dengan pertumbuhan majemuk tahunan di atas 140 persen.

Angka tersebut menjadi magnet besar bagi produsen global untuk tidak sekadar menjual, melainkan menancapkan pabriknya di dalam negeri. Indonesia kini bukan lagi sekadar pasar konsumtif, melainkan calon basis produksi utama di kawasan Asia Tenggara.

Pangsa Pasar Terus Terkikis Mesin Bensin

penjualan mobil listrik

Berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian per 2025, peta persaingan di jalan raya sudah berubah signifikan. Pangsa pasar kendaraan berbasis elektrifikasi total sudah mencapai 21,71 persen.

Rinciannya, mobil listrik murni (BEV) menguasai 12,93 persen. Diikuti mobil hibrida (HEV) sebesar 8,13 persen, dan hibrida plug-in (PHEV) sebesar 0,65 persen.

Meski mesin pembakaran internal masih mendominasi volume produksi, kontribusi kendaraan listrik terus merayap naik. Pada 2025, andil kendaraan setrum terhadap total produksi nasional sudah menyentuh 11,1 persen.

Kunci Kemenangan: Satu Atap dari Tambang ke Pabrik

Keunggulan kompetitif Indonesia tidak terletak pada besarnya jumlah penduduk semata. Para pelaku industri melirik sesuatu yang lebih fundamental: rantai pasok baterai yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara yang memiliki fasilitas pemurnian mineral (refinery), pabrik sel baterai, hingga skema daur ulang (recycling) dalam satu ekosistem. Kondisi ini memangkas biaya logistik dan memberikan kepastian bahan baku bagi pabrikan.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta menjadi faktor kunci dalam percepatan ini.

“Pemerintah serius membangun industri kendaraan listrik nasional secara menyeluruh. Kami juga memberikan sinyal pasar yang kuat dengan menjadikan pemerintah sebagai early adopter,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (22/4).

Pabrikan Besar Mulai Bergerak, Kapasitas Produksi Siap Membengkak

Geliat pabrik di lapangan sudah mulai terlihat. Sejumlah nama besar yang sudah berkomitmen antara lain Hyundai Motor Manufacturing Indonesia, SGMW Motors Indonesia, serta konsorsium Industri Baterai Indonesia.

Tahun 2026 diproyeksikan menjadi titik lompatan berikutnya. Sejumlah pabrikan baru yang mengikuti skema insentif impor utuh (CBU) akan mulai beroperasi secara komersial. Langkah ini diyakini bakal mendongkrak volume produksi nasional sekaligus menyajikan lebih banyak opsi harga bagi konsumen.

Menuju Era Mobil Nasional Listrik

Di tengah ramainya pemain global, wacana kelahiran perusahaan mobil listrik nasional kembali mengemuka. Pemerintah tengah mempersiapkan pembentukan entitas bisnis yang akan fokus memproduksi mobil listrik dalam negeri.

Targetnya, produksi massal diharapkan sudah bergulir pada 2028. Jika terwujud, langkah ini bukan sekadar simbol kebanggaan, melainkan upaya untuk mengisi ceruk pasar yang belum tersentuh merek-merek raksasa asing.

Dengan fondasi rantai pasok yang solid dan regulasi yang terus diperkuat, posisi Indonesia di peta industri kendaraan listrik global berpotensi naik kelas. Bukan lagi sekadar importir, melainkan raja ekspor di kawasan ASEAN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *