JAKARTA, 29 MEI 2026, Ketika harga emas dunia naik, logika sederhana mengatakan orang akan membeli emas batangan, bukan perhiasan. Data membenarkan sebagian: konsumsi perhiasan emas domestik turun 27 persen dalam setahun. Tapi logika itu tidak menceritakan seluruh cerita.

Nilai ekspor perhiasan Indonesia justru melonjak 64,72 persen, dari US$5,5 miliar menjadi US$9,1 miliar. Artinya, industri perhiasan nasional tidak sedang sekadar bertahan. Ia sedang bergeser: dari mengandalkan pasar domestik ke mengisi pasar global dengan desain dan identitas budaya yang tidak dimiliki logam mulia polos.
Data yang Perlu Diketahui
- 1.402 ton permintaan emas batangan dunia (2025), naik 16% dari 1.208 ton
- 16,6 ton konsumsi perhiasan emas Indonesia (2025), turun dari 22,8 ton (2024), atau -27%
- US$9,1 miliar ekspor barang perhiasan & barang berharga (2025), naik dari US$5,5 miliar, atau +64,72%
- 539 unit usaha industri perhiasan di Indonesia: 411 kecil, 79 menengah, 49 besar
- 21.116 tenaga kerja terserap di sektor ini
- 83,96% produk ekspor utama berupa perhiasan dari logam mulia selain perak (nilai US$7,64 miliar)
Dua Wajah yang Bekerja Bersamaan
Yang menarik dari industri perhiasan nasional adalah ia tidak bergerak monolitik. Ada dua sisi dengan dinamika berbeda:
Pasar domestik (-27% konsumsi) Ketika harga emas naik, daya beli masyarakat untuk perhiasan sebagai aksesori menurun. Konsumen beralih ke logam mulia batangan yang dianggap lebih “murni investasi”. Margin penjualan ritel perhiasan tertekan.
Pasar ekspor (+64,72% nilai) Justru sebaliknya. Perhiasan Indonesia dengan desain kaya budaya lokal menjadi produk premium di pasar global. Kreativitas desain dan fleksibilitas material (emas, perak, batu mulia) menjadi daya saing yang tidak dimiliki logam mulia batangan.
*Paradoks emas Mei 2026: harga logam mulia yang naik membuat konsumen domestik berpikir dua kali membeli perhiasan, tapi di saat bersamaan membuat produk perhiasan Indonesia lebih bernilai di mata eksportir. Dua efek yang berlawanan, tapi ekspor menang besar. *
Mengapa Pelaku Industri Tidak Berbondong-bondong Pindah ke Logam Mulia?
Dirjen IKMA Reni Yanita menyebut mayoritas IKM perhiasan tetap fokus memproduksi perhiasan. Bukan karena mereka tidak tahu peluang, tapi karena hambatan masuk ke bisnis logam mulia sangat tinggi.
Direktur Utama UBS Eddy Yahya dan Sekjen Asosiasi Pengusaha Perhiasan Indonesia Iskandar Husin memberikan gambaran yang sama:
Bisnis logam mulia → butuh modal besar, reputasi kuat, branding terpercaya, sertifikat keaslian, izin perdagangan komoditas
Harga bahan baku → berubah hampir setiap hari, fluktuasi global tinggi
Likuiditas → jauh lebih tinggi karena nilai bahan baku besar
Konsumen → cenderung memilih kadar emas atau gramasi lebih ringan agar lebih efisien
Dosen ISI Yogyakarta, Alvi Lufiani, menambahkan bahwa logam mulia juga menuntut perhatian pada aspek hukum yang lebih ketat. Tidak semua pengusaha perhiasan siap masuk ke arena itu.
Artinya: industri perhiasan dan logam mulia adalah dua ekosistem berbeda. Satu tidak bisa otomatis menggantikan yang lain.
Yang Bekerja, dan yang Masih Rapuh
Kemenperin melalui Ditjen IKMA terus memperkuat ekosistem perhiasan dengan:
→ Koordinasi lintas kementerian dan lembaga
→ Lembaga jasa bullion dan pembiayaan
→ Promosi, pameran, bimbingan teknis, workshop ekspor
→ Program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN)
Ini semua baik. Tapi pertanyaan struktural tetap menganga:
Jika konsumsi domestik terus turun, apakah ketergantungan pada ekspor terlalu besar? 83,96 persen ekspor perhiasan dalam satu kategori produk (logam mulia selain perak) menunjukkan konsentrasi risiko. Satu gejolak di pasar global bisa berdampak besar.
Penutup: Ekspor Meledak, Tapi Domestik Jangan Dilupakan
Industri perhiasan nasional membuktikan bahwa ia tidak mati hanya karena orang lebih suka membeli emas batangan. Kreativitas desain, fleksibilitas material, dan identitas budaya lokal adalah aset yang tidak dimiliki logam mulia polos.
Tapi momentum ekspor yang luar biasa ini belum berarti masalah domestik selesai. Daya beli masyarakat terhadap perhiasan sebagai aksesori mewah terus tergerus. Jika tren penurunan konsumsi domestik berlanjut, industri perhiasan akan semakin tergantung pada pasar luar negeri yang lebih fluktuatif.Pertanyaan yang relevan bukan apakah ekspor bisa terus tumbuh. Pertanyaannya: berapa lama pasar domestik bisa diabaikan, dan apa yang akan terjadi jika ekonomi global melambat?
Sumber: Keterangan tertulis Kemenperin, Jakarta, 29 Mei 2026; data World Gold Council, BPS, SIINas, Trademap.org.



