Kantong Mulai Menjerit, Penjualan Mobil EV Naik 96 Persen

Home » Blog » Otomotif » Kantong Mulai Menjerit, Penjualan Mobil EV Naik 96 Persen

JAKARTA — Derita dompet akibat harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang kian panas rupanya menjadi obat mujarab bagi pasar mobil listrik. Konsumen yang biasanya setia pada deru mesin bensin kini mulai berpaling. Mereka melirik kendaraan yang lebih senyap dan diklaim lebih bersahabat dengan isi saldo rekening bulanan.

Angka di lapangan menunjukkan pergeseran perilaku ini bukan sekadar tren sesaat. Hingga Maret 2026, pasar mobil listrik berbasis baterai (BEV) di Indonesia melesat nyaris dua kali lipat.

Pasar Bensin Mulai Ditinggal di Ruang Pamer

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) merekam jejak perubahan selera publik dengan cukup gamblang. Dulu, pada 2021, hampir semua orang yang masuk dealer pasti pulang membawa mobil mesin bakar (ICE). Pangsanya saat itu nyaris sempurna, 99,6 persen.

Lima tahun berselang, peta itu buyar. Per Maret 2026, kontribusi mobil bensin menyusut ke 75 persen. Sebaliknya, kendaraan listrik yang dulu hanya mengisi sudut ruang pamer kini merebut hati lebih banyak pembeli. Pangsa pasarnya meroket dari 0,1 persen di 2021 menjadi 15,6 persen pada kuartal pertama tahun ini.

Angka penjualan pun berbicara lebih keras. Sebanyak 33.146 unit mobil listrik murni berpindah tangan ke konsumen hingga Maret lalu. Jumlah ini melonjak 96 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan mobil bensin. Penjualannya justru menyusut dari 174.776 unit menjadi 156.684 unit. Pertumbuhannya minus. Sementara industri otomotif secara umum hanya tumbuh tipis 1,7 persen, segmen listrik justru berlari kencang sendirian.

Mengapa Pembeli Mulai Berani Pindah Haluan?

Direktur Jenderal ILMATE Kemenperin, Setia Diarta, melihat fenomena ini sebagai buah dari perubahan cara pandang masyarakat. Konsumen tidak lagi sekadar melihat harga beli di awal, tetapi mulai menghitung biaya operasional jangka panjang.

“Perubahan preferensi konsumen menjadi faktor utama. Masyarakat kini semakin mempertimbangkan efisiensi energi dan aspek ramah lingkungan,” ujar Setia dalam diskusi Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Rabu (22/4).

pembuatan mobil ev

Dari sisi dompet konsumen, selisih harga yang dulu dianggap terlalu lebar kini mulai menyempit. Andrea Suhendra, CEO Degree Synergy International, mencatat jumlah model BEV yang bisa dipilih masyarakat kini melimpah. Dari semula hanya 11 model pada 2021, sekarang sudah tersedia 74 model.

Harga pun sudah merangkak turun ke kisaran Rp300 jutaan. Angka ini sudah sangat dekat dengan banderol mobil-mobil konvensional populer.

“Selisih harga makin tipis. Sementara total biaya kepemilikan kendaraan listrik jauh lebih rendah,” kata Andrea.

Faktor pemicu lainnya adalah harga solar yang ikut melambung. Bagi konsumen yang selama ini mengandalkan mesin diesel, beralih ke listrik terasa lebih logis karena biaya operasional harian bisa ditekan drastis.

Ekosistem Makin Siap, Pabrik dan Dealer Bertaburan

Kekhawatiran konsumen soal infrastruktur juga perlahan tereduksi. Dari balik layar, industri terus membangun fondasi. Kemenperin mencatat saat ini sudah ada 14 perusahaan yang merakit mobil listrik di dalam negeri. Kapasitas totalnya mencapai 409.860 unit per tahun.

Di jalanan, populasi kendaraan setrum kini mencapai 358.205 unit per Maret 2026. Mayoritas memang masih didominasi roda dua (236.451 unit). Namun, mobil listrik penumpang kini sudah tidak lagi langka dengan jumlah 119.638 unit.

Pertumbuhan tahunan majemuknya (CAGR) dalam lima tahun terakhir bahkan menembus 140 persen. Sebuah sinyal bahwa konsumen Indonesia sebenarnya haus akan opsi transportasi yang lebih murah dan bersih.

Persaingan Pasar Kian Sengit

Dari kacamata konsumen, persaingan antar merek justru menguntungkan. BYD Indonesia, misalnya, mengklaim peningkatan penjualan 65 persen dan kini menguasai 41 persen pangsa pasar mobil listrik lokal.

Head of PR & Government BYD Indonesia, Luther T. Panjaitan, menyebut jaringannya kini sudah mencapai 84 dealer di 48 kota.

Melihat kondisi ini, Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menilai pertanyaan di masa depan sudah berubah haluan. “Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah BEV akan terus tumbuh, tetapi apakah kendaraan konvensional akan ikut terelektrifikasi,” ujarnya.

Catatan untuk Dompet Masa Depan

Meski antusiasme tinggi, Andrea Suhendra mengingatkan konsumen untuk mewaspadai potensi gejolak harga akibat kebijakan pajak daerah. Namun ia optimis minat masyarakat tidak akan surut.

Bagi pembeli yang masih ragu meninggalkan SPBU sepenuhnya, ada usulan agar pemerintah memberi insentif untuk mobil hybrid plug-in (PHEV). Jenis ini bisa menjadi jembatan bagi konsumen yang ingin irit BBM tapi belum nyaman dengan ketergantungan penuh pada stasiun pengisian daya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *