Asah Potensi, Kemenperin Dorong IKM Perkakas Tangan Lebih Berdaya Saing

Kemenperin optimistis industri perkakas tangan nasional bisa jadi andalan baru, terutama untuk menyokong sektor pertanian dan perkebunan. Data yang disampaikan cukup solid: ada 123 unit IKM dengan serapan tenaga kerja sekitar 512 orang yang tersebar dari Sumatera sampai Sulawesi. Sentra terbesarnya bahkan ada di Sumatera Utara, dengan produk semacam egrek dan dodos yang konon sudah menembus pasar ekspor hingga Panama dan Kolombia. Sekilas, ini terdengar seperti cerita manis tentang produk lokal yang mulai mendunia.

Kemenperin Dorong IKM Perkakas Tangan

Tapi sebagai generasi yang terbiasa skeptis dan membaca data secara utuh, kita tidak bisa langsung tepuk tangan. Menperin Agus Gumiwang sendiri menyebut bahwa industri ini punya potensi karena Indonesia negara agraris dan keahlian pembuatan perkakas sudah diwariskan turun-temurun. Itu benar, tapi justru dari pernyataan itu kita melihat paradoks: kok industri yang katanya “potensial” dan “turun-temurun” ini cuma punya 512 tenaga kerja di seluruh Indonesia? Jumlah itu terlalu kecil untuk disebut sebagai penopang sektor agraris yang melibatkan puluhan juta petani. Di sinilah letak skeptisisme dimulai.

Bahan Baku Defisit, Impor Masih Merajalela, Potensi Ini Butuh Fondasi, Bukan Cuma Wacana

Masalah klasik yang kembali diakui oleh Ditjen IKMA adalah keterbatasan bahan baku baja dengan komposisi karbon tertentu dan gempuran produk impor. Nah, ini yang bikin sebagian kita mengernyitkan dahi. Kita bicara soal hilirisasi baja nasional, tapi IKM perkakas tangan justru masih kesulitan dapat bahan baku yang pas. Jadi, sebenarnya rantai pasok kita ini sudah terintegrasi atau belum?

Kerja sama yang disebutkan antara PT SPP Medan dengan PT Krakatau Steel dan PT Jatim Taman Steel memang contoh positif yang patut direplikasi. Tapi tunggu dulu: Krakatau Steel sendiri bukan perusahaan yang bebas masalah. Laporan keuangannya beberapa tahun terakhir sempat merah, restrukturisasi besar-besaran, dan kini sedang berusaha bangkit. Kalau IKM digantungkan pada satu atau dua pemasok besar yang juga masih berjuang, apa iya ini skema jangka panjang yang aman? Seharusnya Kemenperin memikirkan diversifikasi sumber bahan baku, termasuk membuka akses bagi IKM ke pasar baja global secara kolektif dengan harga kompetitif, sambil tetap mempercepat standarisasi baja dalam negeri.

Soal produk impor: kita semua tahu perkakas tangan asal China misalnya, bisa masuk ke pasar tradisional dengan harga yang kadang tidak masuk akal murahnya. Program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dan sertifikasi SNI memang penting, tapi apakah cukup? Tanpa pengawasan ketat di bea cukai dan pasar offline-online, produk impor murah akan terus membanjiri. Apalagi, petani kecil yang jadi target utama justru sering memilih alat yang murah, bukan yang bersertifikat. Jadi, siapa yang akan mensubsidi selisih harga antara produk lokal berkualitas dan produk impor murah? Atau, apa strategi konkret untuk menekan harga produksi IKM agar bisa bersaing tanpa mengorbankan kualitas?

“Negara Agraris” tapi Pasarnya Tidak Sesederhana Itu

Menyebut Indonesia negara agraris dan berharap otomatis pasar perkakas tangan akan besar adalah simplifikasi yang berbahaya. Sektor pertanian kita menghadapi masalah struktural: regenerasi petani yang rendah, lahan yang terus menyusut, dan harga jual komoditas yang tidak stabil. Kalau basis konsumennya sendiri sedang tertekan secara ekonomi, apakah otomatis permintaan perkakas tangan lokal akan naik?

Mestinya analisa potensi pasar ini dibarengi dengan strategi demand creation, bukan cuma supply push. Contohnya, integrasikan distribusi alat-alat ini dengan program KUR untuk petani, kartu tani, atau bundling dengan proyek food estate pemerintah (meskipun ini kontroversial). Kalau tidak, produk sebagus apapun hanya akan jadi pajangan di gudang IKM.

Kolaborasi Jangan Cuma Seremoni, Harus Konkret

Apa yang dilakukan Kemenperin melalui pendampingan teknis, restrukturisasi mesin, dan kemitraan bisnis adalah langkah yang patut diapresiasi. Tapi kalau kita kritis, program-program semacam ini harus ditanya sampai level detailnya. Berapa IKM yang benar-benar naik kelas setelah dapat restrukturisasi mesin? Berapa dari mereka yang omzetnya meningkat signifikan setelah difasilitasi kemitraan? Kalau tidak ada metrik evaluasi yang transparan, kita hanya akan mendengar cerita sukses satu-dua perusahaan macam PT SPP, tanpa tahu apakah program ini menyentuh mayoritas IKM lain yang masih setengah mati bertahan.

Kita mengusulkan beberapa hal yang bisa jadi kritik membangun:

  1. Publikasi dashboard kemajuan IKM binaan. Biar publik, termasuk anak muda yang bisa membantu inovasi, bisa melihat data riil: berapa omzet, berapa tenaga kerja baru, produk apa yang paling diminati. Ini akan menciptakan akuntabilitas sekaligus promosi gratis.
  2. Ciptakan skema reseller atau dropship khusus IKM. Anak muda sekarang banyak yang jadi dropshipper produk fashion atau skincare. Kenapa tidak difasilitasi program serupa untuk perkakas tangan? Dengan kemasan cerita soal produk lokal, ini bisa jadi daya tarik pasar domestik yang baru.
  3. Kompetisi inovasi alat pertanian berbasis kearifan lokal. Ajak mahasiswa teknik dan desain produk untuk merancang ulang perkakas tangan yang lebih ergonomis, murah produksinya, dan bisa dirakit oleh IKM setempat. Ini menghubungkan kampus dengan industri kecil secara langsung.
  4. Skema kredit mikro untuk pembelian bahan baku. Selama bahan baku baja karbon khusus masih mahal, siapkan skema pembiayaan khusus IKM dengan bunga rendah dan tanpa agunan yang menyiksa, bekerja sama dengan bank BUMN.

Kesimpulannya, berita soal penajaman potensi IKM perkakas tangan ini bukan tanpa dasar. Tapi kalau kita cuma membaca rilis pers dan mengangguk setuju, kita bisa terlena dalam ilusi kemajuan. Indonesia memang butuh produk perkakas tangan sendiri, tapi jalurnya tidak cukup dengan menyebut “potensi” dan “dukungan pemerintah”. Perlu eksekusi yang nyata, transparansi data, dan strategi pasar yang kreatif—sesuatu yang justru bisa disumbangkan oleh generasi muda yang skeptis seperti kita. Jadi, daripada cuma tepuk tangan, yuk bantu kritisi dan temukan celah di mana kita bisa ikut berperan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *