USD 1,9 Juta dalam 5 Tahun, Tajikistan Digadang Jadi Gerbang Eurasia

JAKARTA, 14 JUNI 2026, Indonesia adalah salah satu pusat manufaktur terbesar di Asia Tenggara. Otomotif, elektronik, tekstil, dan pengolahan SDA adalah kekuatan utama. Tajikistan, di sisi lain, sedang membangun industri berbasis mineral, aluminium, dan tekstil.

Keduanya saling melengkapi. Itu adalah dasar pembicaraan antara Dirjen KPAII Kemenperin dan Wakil Menteri Perindustrian Tajikistan, Aziz Nazar, di sela BRICS PartNIR 2026 di Xiamen.

Tapi sebelum terlalu optimistis, mari lihat angkanya: perdagangan Indonesia-Tajikistan naik dari USD 1,7 juta (2021) menjadi USD 1,9 juta (2025). Dalam rupiah, itu sekitar Rp 30 miliar. Jumlah yang sangat kecil untuk dua negara dengan populasi gabungan lebih dari 280 juta jiwa.

Data yang Perlu Diketahui

USD 1,9 juta nilai perdagangan RI-Tajikistan (2025) → naik dari USD 1,7 juta (2021)

+11,7% pertumbuhan perdagangan dalam 5 tahun

32 tahun usia hubungan diplomatik kedua negara

BRICS PartNIR 2026 forum di Xiamen, Tiongkok (28 Mei 2026)

Tajikistan dinilai sebagai gerbang potensial ke kawasan CIS (Commonwealth of Independent States)

3 sektor potensial mineral kritis, farmasi & alat kesehatan, ekosistem halal

INNOPROM 2026 pameran industri di Ekaterinburg, Rusia (6-9 Juli) → Indonesia sebagai Partner Country

Potensi yang Saling Melengkapi

Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut kolaborasi antarnegara perlu diperkuat untuk memacu inovasi dan memperluas akses pasar. Ini adalah pernyataan yang benar secara prinsip.

Dirjen KPAII Tri Supondy menambahkan bahwa penguatan hubungan dengan negara mitra membuka peluang baru bagi pelaku usaha nasional.

Tapi mari lihat peta peluang:

Tajikistan → negara di Asia Tengah, populasi ~10 juta, penghasilan per kapita ~USD 1.200

Indonesia → populasi ~280 juta, ekonomi terbesar di Asia Tenggara

Perdagangan bilateral saat ini → USD 1,9 juta (setara nilai ekspor satu kontainer produk Indonesia ke negara tetangga)

Paradoks Ekspansi Pasar

Indonesia ingin menjadikan Tajikistan sebagai gerbang ke kawasan Eurasia yang lebih luas. Tapi jika perdagangan bilateral saja masih di bawah USD 2 juta, maka gerbang itu masih berupa lubang kecil. Dibutuhkan investasi serius dalam promosi, logistik, dan negosiasi perjanjian perdagangan agar potensi ini terwujud.

Apa yang Sedang Dikerjakan

Beberapa inisiatif sudah mulai bergerak:

→ Nota Kesepahaman bidang industri yang diajukan Tajikistan → sedang disempurnakan ruang lingkupnya
→ Tiga sektor fokus: mineral kritis, farmasi & alat kesehatan, industri halal
→ Indonesia sebagai Partner Country pada INNOPROM 2026 di Rusia → ajang promosi produk manufaktur

Ini semua adalah langkah awal yang baik. Tapi ada beberapa hal yang perlu diwaspadai:

Pertama, infrastruktur perdagangan. Tajikistan adalah negara tanpa laut. Akses barang dari Indonesia harus melalui negara ketiga, yang berarti biaya logistik tinggi dan waktu pengiriman panjang. Ini akan menjadi hambatan serius untuk produk manufaktur bernilai tambah.

Kedua, daya beli pasar. Dengan pendapatan per kapita sekitar USD 1.200, pasar Tajikistan tidak besar untuk produk konsumsi. Peluang mungkin lebih besar di sektor B2B, seperti bahan baku dan mesin industri.

Ketiga, persaingan. Tiongkok dan Rusia sudah lebih dulu hadir di Asia Tengah. Indonesia perlu menawarkan nilai lebih yaitu kualitas, desain, atau harga untuk bersaing.

Penutup: Peluang Ekspansi, Bukan Lompatan Instan

BRICS PartNIR 2026 adalah panggung yang tepat bagi Indonesia untuk memperkenalkan diri sebagai mitra industri serius. Tajikistan adalah mitra yang potensial. Hubungan 32 tahun adalah fondasi yang cukup matang untuk diperdalam.

Tapi perdagangan USD 1,9 juta menunjukkan bahwa hubungan ekonomi selama ini masih bersifat seremonial, bukan substansial. Dibutuhkan terobosan: perjanjian perdagangan preferensial, misi dagang yang agresif, dan dukungan bagi pelaku usaha untuk menembus pasar Eurasia.

Pertanyaan yang relevan bukan apakah Tajikistan adalah target yang tepat, kemungkinan iya. Pertanyaannya: apa langkah konkret berikutnya, dan berapa target perdagangan yang ingin dicapai dalam 5 tahun ke depan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *