Ketika krisis energi dan gejolak geopolitik dunia meningkat, sektor manufaktur Indonesia merespons dengan tetap bertahan. Buktinya, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) April 2026 berada di level 51,75, masih dalam fase ekspansi meskipun turun tipis 0,11 poin dari bulan sebelumnya.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Arief, mengakui bahwa krisis energi telah memengaruhi subsektor tertentu seperti industri kimia dan tekstil. Namun, secara umum seluruh variabel pembentuk IKI masih ekspansi: pesanan (51,43), produksi (51,34), dan persediaan (53,13).

Yang menarik, ada pergeseran strategis. IKI berorientasi ekspor tercatat 52,28 (melambat), sementara IKI berorientasi domestik justru naik menjadi 50,90. Artinya, pasar dalam negeri mulai berperan sebagai penopang utama di saat permintaan eksternal melemah.
Pelaku usaha juga masih optimis. Tingkat keyakinan untuk enam bulan mendatang mencapai 70,1%, meskipun turun 1,7% dibanding bulan sebelumnya.
Dari 23 subsektor yang dianalisis, 16 subsektor mengalami ekspansi dengan kontribusi 78,9% terhadap PDB industri pengolahan nonmigas. Subsektor dengan kinerja tertinggi: industri pengolahan tembakau serta industri kertas dan barang dari kertas.
Beberapa subsektor yang justru meningkat pesanannya pada April antara lain: industri pakaian jadi (garmen), industri farmasi dan obat tradisional, industri barang logam dan mesin, komputer, barang elektronik dan optik, serta peralatan listrik.
Namun, ada keterbatasan yang harus diakui. Sejumlah subsektor masih terkontraksi: industri minuman, tekstil, kayu, bahan kimia, barang galian bukan logam, barang logam, serta alat angkutan lainnya.
Yang menarik, industri tekstil terkontraksi karena masalah bahan baku dari petrokimia, tetapi industri pakaian jadi justru meningkat. Penyebabnya? Subsektor pakaian jadi yang berada di kawasan berikat lebih mudah memperoleh bahan baku, dan bahan baku tersebut juga masuk ke pasar domestik. Kemenperin berharap arus produk keluar masuk pasar domestik diatur lebih baik, karena kondisi ini yang menyulitkan industri tekstil.
Kemenperin juga memberikan respons terhadap kekhawatiran publik tentang deindustrialisasi. Febri menegaskan bahwa kontribusi industri pengolahan terhadap PDB nasional tahun 2025 tercatat 19,07% dan menunjukkan tren meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Ia menjelaskan bahwa perbandingan data PDB antar periode harus hati-hati karena adanya perubahan konsep, definisi, dan metodologi perhitungan pada 2009-2010. Jika dibandingkan dalam periode yang sama (Q2 2022 hingga Q4 2025), tren kontribusi industri pengolahan justru naik.
Selain itu, tidak terjadi pergeseran tenaga kerja dari sektor industri pengolahan (yang berjumlah 21,6 juta orang) ke sektor lain. Ini menjadi bukti tambahan bahwa Indonesia tidak mengalami gejala deindustrialisasi dini.
Apa wawasan yang bisa dipetik? Pertama, ketahanan industri manufaktur saat ini sangat bergantung pada pasar domestik. Kedua, subsektor yang terintegrasi dengan kawasan berikat (kemudahan impor bahan baku untuk ekspor) lebih tahan tekanan. Ketiga, perbandingan data makro perlu memperhatikan metodologi agar tidak salah interpretasi.
Kesimpulannya, respons industri manufaktur terhadap tekanan global adalah dengan mengandalkan permintaan dalam negeri dan memanfaatkan subsektor yang masih tumbuh. Bukti dari IKI menunjukkan ekspansi masih terjadi, namun perlambatan nyata. Keterbatasannya: subsektor tertentu seperti tekstil dan kimia masih tertekan, terutama karena masalah rantai pasok bahan baku. Wawasan utama untuk pembaca muda adalah bahwa ekonomi manufaktur tidak sekadar naik-turun angka, tetapi soal adaptasi dan struktur insentif yang menentukan siapa yang bertahan.
source : https://www.kemenperin.go.id/artikel/72482713/Industri-Manufaktur-Bertahan-di-Tengah-Dinamika-Global,-IKI-April-Tetap-Ekspansi



