Puluhan Miliar Dolar Investasi Tiongkok Masuk, RI Kekurangan SDM yang Siap

Kemenperin menggandeng universitas Tiongkok untuk mencetak tenaga kerja industri yang benar-benar dibutuhkan investor.

Investasi Tiongkok di Indonesia terus deras, puluhan miliar dolar AS dalam lima tahun terakhir mengalir ke hilirisasi mineral, manufaktur, tekstil, dan teknologi. Tapi ada satu masalah: tenaga kerja yang dibutuhkan belum siap.

source : www.pexels.com

Inilah yang mendorong Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bergerak cepat. Bukan sekadar membangun pabrik, tapi memastikan ada SDM yang kompeten untuk mengisinya.

Apa yang Dilakukan Kemenperin Indonesia?

Pada 27 April, Badan Pengembangan SDM Industri (BPSDMI) Kemenperin menandatangani MoU dengan Liuzhou Polytechnic University, perguruan tinggi negeri Tiongkok yang fokus pada industri otomotif, mesin, dan teknologi informasi generasi baru.

Kerja sama ini mencakup:

  • Pertukaran mahasiswa dan dosen
  • Beasiswa pendidikan
  • Pengembangan kurikulum bersama
  • Penelitian akademik, seminar, dan kuliah umum
  • Dukungan terhadap sekolah dan politeknik Kemenperin

Keduanya juga bergabung dalam China-Indonesia TVET Industry-Education Alliance (CITIEA), aliansi baru yang menjembatani pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri nyata di lapangan.

Skala Infrastruktur Vokasi yang Dimiliki Kemenperin

Kemenperin bukan pemain baru di pendidikan vokasi. Lewat BPSDMI, mereka mengelola:

  • 11  Politeknik di bawah naungan BPSDMI
  • Akademi komunitas
  • SMK industri

Infrastruktur ini yang kini diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang langsung bisa diserap industri, khususnya investor dari Tiongkok yang membutuhkan tenaga kerja teknis berkualitas tinggi.

Mengapa Tiongkok?

“Investasi Tiongkok di Indonesia dalam lima tahun terakhir mencapai puluhan miliar dolar AS, dan terus meningkat.”, Kepala BPSDMI, Doddy Rahadi

Sektor yang paling banyak menyerap investasi Tiongkok adalah hilirisasi mineral, manufaktur, dan teknologi. Semua sektor ini butuh tenaga teknis yang spesifik, bukan sekadar lulusan umum.

Dengan menggandeng kampus yang sudah berpengalaman memasok tenaga kerja untuk industri-industri tersebut di Tiongkok, Kemenperin berharap dapat memperpendek jarak antara bangku kuliah dan lantai pabrik.

Yang Harus Diperhatikan

Kerja sama ini menjanjikan, tapi hasilnya tidak instan. Link and match antara pendidikan vokasi dan industri adalah masalah lama yang belum terpecahkan di Indonesia. MoU dan aliansi adalah langkah awal, implementasi nyata di kurikulum, magang, dan penyerapan kerja yang akan jadi penentu.

Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita sendiri menegaskan bahwa pendidikan vokasi harus menghasilkan lulusan dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan dunia kerja, bukan sekadar gelar di atas kertas.

Buka Pendaftaran hingga Mei 2026

Kemenperin membuka pendaftaran siswa dan mahasiswa baru melalui Jalur Penerimaan Vokasi Industri (JARVIS) Bersama 2026. Akses di: jarvis.kemenperin.go.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *