Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan satu pesan yang cukup gamblang buat anak muda: ke depan, bisnis dan inovasi yang bisa bertahan dan menang cuma yang berani serius main di ranah sains dan teknologi. Bukan lagi sekadar jualan biasa, tapi bagaimana kita mengintegrasikan riset ke dalam produk, layanan, dan cara berpikir.

Dalam arahannya di Jakarta, Sabtu (25/4), Mendiktisaintek menekankan bahwa disrupsi global dan ketidakpastian ekonomi bukanlah ancaman yang harus ditakuti, melainkan panggung buat lahirnya pemain-pemain baru. Syaratnya satu: generasi muda harus memperkuat fondasi riset dan teknologi. “Ke depan, bisnis, usaha, dan inovasi di Indonesia tidak mungkin berhasil tanpa sains dan teknologi,” tegasnya. Ini semacam warning sekaligus undangan terbuka.
Mengisi Kekosongan di Industri: Saatnya Anak Kampus Jadi Tulang Punggung
Salah satu masalah struktural yang masih jadi PR besar adalah rendahnya proporsi tenaga kerja berpendidikan tinggi di sektor industri. Akibatnya, transformasi menuju industri berbasis pengetahuan jadi kurang optimal. Nah, di celah inilah mahasiswa dan alumni bisa masuk sebagai knowledged workforce—tenaga kerja yang dibekali kemampuan berpikir kritis, riset, dan teknologi. Bukan cuma jadi pekerja, tapi jadi pencipta solusi.
Kebijakan “Diktisaintek Berdampak” pun diarahkan agar kampus nggak cuma jadi tempat kuliah dan skripsi, melainkan pusat riset terapan yang langsung nyambung dengan kebutuhan industri. Model kolaborasi macam ini diharapkan meluas, sehingga makin banyak lahir bisnis yang fondasinya sains dan teknologi—bukan coba-coba.
Bukan Lari Cepat, Tapi Lari Maraton
Menteri Brian juga mengingatkan bahwa membangun inovasi besar butuh orientasi jangka panjang. Nggak bisa instan, nggak bisa setengah-setengah. Ketekunan, daya tahan, dan komitmen pada kualitas dan dampak adalah kunci. Jadi, buat kamu yang lagi merintis startup, proyek riset, atau bahkan masih kuliah dan mencari arah, ini sinyal kuat bahwa arah angin ekonomi Indonesia sedang dibelokkan ke sana: ekonomi berbasis inovasi.
Saatnya Ambil Peran
Pemerintah memang menyiapkan panggung dan kebijakan, tapi pemain utamanya tetaplah generasi muda. Dunia nggak menunggu kita siap, dan teknologi bergerak jauh lebih cepat dari kurikulum. Maka, pesan dari Menteri Brian ini bisa dibaca sebagai ajakan untuk nggak cuma jadi penonton, tapi segera ambil posisi: pelajari sains dan teknologi, bangun kolaborasi dengan industri, dan ciptakan solusi yang benar-benar berdampak. Karena masa depan Indonesia yang berdaya saing global, ujung-ujungnya ada di tangan kamu.
