Bekasi, Selasa (15/9/2026) – Selama bertahun-tahun, kebutuhan grease atau gemuk pelumas di pasar domestik banyak bergantung pada pasokan impor. Sepanjang 2025 saja, Indonesia mendatangkan sekitar 22.377 ton produk grease dari luar negeri, dan lebih dari separuhnya, sekitar 11.757 ton, merupakan merek Shell Gadus, yang pabriknya justru masih berada di luar negeri.
Ketergantungan itu mulai terjawab, Selasa (15/9), saat Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita meresmikan Shell Grease Manufacturing Plant (GMP) di Marunda, Bekasi. Fasilitas ini menandai babak baru: Indonesia kini mampu memproduksi sendiri produk yang selama ini masih datang dari luar negeri.

Kementerian Perindustrian menilai masuknya investasi manufaktur semacam ini memperkuat kemampuan industri pelumas dalam negeri, sekaligus membuka peluang nilai tambah, pemanfaatan industri pendukung, dan substitusi impor. “Bagi Pemerintah, investasi ini penting karena menghadirkan kapasitas produksi dan teknologi manufaktur baru, sekaligus memperkuat keterkaitan dengan industri pendukung di dalam negeri. Inilah arah industrialisasi yang kita kehendaki, yaitu investasi yang memperkuat kapasitas produksi, nilai tambah, teknologi, dan ekosistem industri nasional,” ujar Agus saat peresmian.
Penguatan basis manufaktur ini sejalan dengan kinerja positif industri pengolahan nonmigas (IPNM) nasional. Pada Triwulan II 2026, IPNM tumbuh 5,32 persen secara tahunan, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen, sekaligus menyumbang porsi pertumbuhan terbesar sebanyak 0,97 poin persentase.
Agus menyebut kinerja manufaktur nasional itu tidak lepas dari kepercayaan pelaku industri yang terus memperkuat produksinya di Indonesia, termasuk Shell yang kembali menegaskan komitmennya lewat penguatan basis manufaktur di Marunda.
Setelah mengembangkan Lubricants Oil Blending Plant (LOBP) pada 2022, Shell kini mengoperasikan kapasitas produksi pelumas hingga 300 juta liter per tahun di Marunda. Kehadiran GMP melengkapi fasilitas itu dengan tambahan kapasitas produksi grease sebesar 12.000 ton per tahun, menempatkan GMP Marunda, berdasarkan data Shell, dalam tiga fasilitas grease terbesar milik perusahaan itu secara global. Agus menilai pencapaian ini menunjukkan posisi penting Indonesia dalam jaringan manufaktur Shell dunia.
Dengan beroperasinya GMP Marunda, Shell kini bisa memproduksi Shell Gadus langsung di Indonesia, alih-alih mengimpornya. Kapasitas ini berpotensi memperkuat pemenuhan grease dari produksi domestik sekaligus membuka ruang substitusi impor dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri.
Selain kapasitas produksi, Agus menilai keterkaitan investasi dengan industri nasional menjadi aspek penting bagi penguatan ekosistem manufaktur. Saat ini, Shell telah melibatkan lebih dari 50 vendor domestik dengan nilai pengadaan sekitar Rp30 miliar per tahun. “Keterlibatan vendor domestik menjadi fondasi yang baik untuk membangun ekosistem rantai pasok yang semakin kuat di dalam negeri. Ke depan, local sourcing dapat terus diperluas, terutama untuk bahan baku, kemasan, dan jasa industri, sehingga manfaat investasi dapat dirasakan lebih luas melalui tumbuhnya industri pendukung dan kegiatan ekonomi di sepanjang rantai pasok,” tuturnya.
Agus turut mengapresiasi penerapan teknologi manufaktur modern dan proses otomatis di GMP Marunda, yang menurutnya meningkatkan produktivitas, menjaga konsistensi mutu, serta memperkuat daya saing industri. Fasilitas ini memakai teknologi contact reactor dalam proses produksinya, serta mengandalkan sistem otomatisasi dan Safety Instrumented System untuk mendukung keselamatan dan konsistensi proses. Industri di berbagai sektor banyak memakai Shell Gadus produksi pabrik ini untuk aplikasi bantalan (bearing) dan roda gigi.
Dari aspek keberlanjutan, kawasan LOBP Marunda telah menerapkan pemanfaatan panel surya, energy monitoring system, dan rainwater harvesting. Panel surya di kawasan itu menghasilkan sekitar 1,1 juta kWh per tahun, memenuhi sekitar 17 persen kebutuhan listrik area LOBP. Agus menyebut komitmen terhadap manufaktur yang modern, produktif, dan efisien dalam penggunaan sumber daya ini sejalan dengan arah pembangunan industri nasional yang semakin hijau, aman, dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, Agus berharap GMP Marunda tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga berkembang menjadi salah satu basis produksi grease Shell untuk kawasan, mengingat posisi strategis Indonesia, basis manufaktur yang besar, serta pasar domestik yang kuat. “Kita mulai dari Indonesia, memperkuat Indonesia, dan pada saatnya membawa produk yang dibuat di Indonesia ke pasar regional dan global. Kita ingin semakin banyak produk yang dibuat di Indonesia mampu masuk dan berperan dalam rantai pasok global,” katanya.
Agus juga mengapresiasi program sosial dan lingkungan Shell lewat Desa BERSEMI, yang berjalan sejak 2016 dan memberi manfaat langsung kepada lebih dari 230 rumah tangga di sekitar kawasan lewat praktik ekonomi sirkular dan pengelolaan limbah terpadu. Ia menilai perusahaan perlu terus mengembangkan praktik semacam ini, karena kemajuan industri mesti berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Dengan beroperasinya GMP Marunda, Agus berharap fasilitas ini terus berkembang menjadi kegiatan manufaktur yang produktif, kompetitif, aman, dan berkelanjutan, sekaligus makin memperkuat keterkaitannya dengan industri nasional dan memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian Indonesia.
Sumber:
Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Siaran Pers peresmian Shell Grease Manufacturing Plant, Marunda, Bekasi, 15 September 2026
ANTARA News, “Kemenperin: Penguatan produksi grease perkuat industri pendukung”, 15 September 2026 – antaranews.com
Republika Online, “Pabrik Gemuk Shell di Marunda Mulai Beroperasi, Sasar Kebutuhan Industri Domestik”, 15 September 2026 – republika.co.id (detail teknologi contact reactor dan aplikasi produk)




