BRIN Meningkatkan Kapasitas Pirolisis dari 400 Kg menjadi 1,25 hingga 5 Ton Sampah Plastik per Hari

TANGERANG SELATAN, 22 MEI 2026 — Indonesia punya darurat sampah plastik perkotaan. Banyak daerah tidak memiliki fasilitas pengolahan yang memadai. BRIN mengembangkan solusi: mengubah plastik menjadi bahan bakar minyak melalui teknologi pirolisis.

Hasilnya, secara teknis, mengesankan. LAHSADIMIN Generasi 2 mampu mengolah 1,25 ton sampah plastik per hari, dengan target hingga 5 ton. Sistem multikontinu memungkinkan plastik langsung dimasukkan tanpa pemilahan. Tapi cerita Generasi 1 meninggalkan satu pelajaran penting: teknologi canggih tidak ada artinya jika tidak menguntungkan secara ekonomi.

Data yang Perlu Diketahui

  • LAHSADIMIN Generasi 1 → kapasitas 400 kg sampah plastik/hari → hasil ~300 liter minyak mentah → tidak ekonomis, tidak menarik investor
  • LAHSADIMIN Generasi 2 → kapasitas 1,25 ton/hari (target hingga 5 ton) → operasi multikontinu tanpa pemilahan → bahan baku: residu padat plastik RDS
  • Plastik jenis PP, PS, PE → bahan baku awal Generasi 1
  • Gas hasil pirolisis → dikompresi menjadi produk bernilai tambah
  • Target sistem besar → solusi untuk pengolahan 100 ton sampah/hari, dengan ~10% berupa sampah plastik
  • Harga beli RDS ditargetkan >Rp1.000/kg → agar fasilitas RDS layak dibangun lebih luas

Generasi 1 Gagal. Apa yang Berubah di Generasi 2?

Perekayasa BRIN, Agus Kismanto, jujur mengakui kegagalan ekonomis Generasi 1: hasil 300 liter per hari tidak mampu menutup biaya operasional. Investor tidak tertarik.

Generasi 2 mencoba mengatasi tiga kelemahan:

Kapasitas dinaikkan 3-12 kali lipat → dari 400 kg menjadi 1,25-5 ton per hari

Operasi dari semi-kontinu menjadi multikontinu → plastik bisa langsung masuk tanpa pemilahan, efisiensi naik

Sistem dua tahap dengan plastic-based liquefaction → plastik dicairkan dulu, pirolisis lebih efisien, reaktor lebih ringkas

Produk tambahan bukan hanya BBM, tapi juga gas hasil pirolisis yang dikompresi

Semua ini adalah lompatan teknis yang signifikan. Tapi pertanyaan fundamental belum terjawab.

Paradoks Pirolisis BRIN

Secara teknis, LAHSADIMIN Generasi 2 adalah kemajuan nyata. Tapi Generasi 1 tidak gagal karena teknologi buruk. Ia gagal karena biaya operasional lebih tinggi dari nilai jual produk. Menambah kapasitas memang menurunkan biaya per unit, tapi apakah cukup untuk mencapai titik impas? BRIN belum menyebutkan angka perhitungan keekonomiannya.

Potensi Pasar dan Celah yang Masih Ada

Agus menyebut bahwa dengan LAHSADIMIN Generasi 2, RDS (refuse derived solid) bisa dibeli di atas Rp1.000 per kilogram. Ini penting. Karena jika harga beli RDS layak, maka fasilitas pengolahan sampah menjadi lebih menarik untuk dibangun.

Tapi ada beberapa celah yang perlu diperhatikan:

Pertama, rantai pasokan bahan baku.

LAHSADIMIN Generasi 2 membutuhkan RDS. RDS sendiri adalah produk dari pengolahan sampah perkotaan yang sudah dipilah. Saat ini, berapa banyak fasilitas RDS yang beroperasi di Indonesia? Jika sedikit, maka teknologi pirolisis akan kekurangan umpan.

Kedua, harga jual output.
Minyak hasil pirolisis adalah minyak plastik mentah (crude plastic oil). Harganya di pasar berapa? Apakah kompetitif dengan BBM fosil atau bahan bakar alternatif lain? BRIN tidak menyebutkan.

Ketiga, biaya investasi dan operasional.
Generasi 1 tidak ekonomis. Generasi 2 lebih efisien, tapi berapa biaya reaktor, biaya energi, biaya perawatan, dan tenaga kerja? Tanpa angka-angka itu, investor tetap akan ragu.

Apa yang Bekerja, dan Apa yang Masih Pekerjaan Rumah

Yang sudah benar dari pendekatan BRIN:

→ Peningkatan kapasitas → skala ekonomi adalah kunci
→ Operasi multikontinu tanpa pemilahan → mengurangi biaya sortasi
→ Produk gas juga dimanfaatkan → tidak ada limbah sekunder
→ Target sebagai bagian dari sistem 100 ton/hari → tidak berdiri sendiri

Tapi yang masih perlu dijawab:

Studi kelayakan ekonomi yang transparan
Harga patokan minyak plastik mentah vs alternatif
Skema pendanaan dan insentif untuk adopsi di daerah
Uji coba lapangan dengan skala 5 ton/hari di kota nyata, bukan laboratorium

Pertanyaan yang Tidak Boleh Dilupakan

Teknologi pirolisis BRIN secara teknis layak diapresiasi. Tapi sejarah penuh dengan inovasi bagus yang mati karena tidak laku. Generasi 1 sudah membuktikan bahwa “teknologi berfungsi” tidak cukup. Pertanyaannya: apakah LAHSADIMIN Generasi 2 sudah dihitung dengan cermat biaya per liter produk, titik impas, dan keunggulan kompetitifnya di pasar? Jika belum, ia berisiko mengulang nasib Generasi 1.

Penutup: Solusi Teknis Sudah Ada. Solusi Ekonomi Masih Tanda Tanya.

BRIN berhasil merancang ulang teknologi pirolisis dengan kapasitas industri. LAHSADIMIN Generasi 2 menjanjikan efisiensi lebih tinggi, proses lebih sederhana, dan produk lebih bervariasi. Ini bukan pencapaian kecil.

Tapi masalah sampah plastik Indonesia tidak akan terselesaikan oleh satu teknologi keren. Ia membutuhkan ekosistem: pasokan RDS yang stabil, harga jual yang kompetitif, regulasi yang mendukung, dan investor yang percaya bahwa bisnis ini menguntungkan.

BRIN sudah melakukan bagiannya sebagai lembaga riset. Sekarang pertanyaan beralih ke pemerintah daerah, swasta, dan pemodal: apakah sistem yang lebih besar ini benar-benar bisa berjalan, atau hanya menjadi proyek percontohan lain yang tidak pernah direplikasi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *