Airbus Masuk, Indonesia Incar Posisi ke-4 Pasar Aviasi Dunia. Tapi Masih Ada PR Besar.

JAKARTA, 6 MEI 2026, Bappenas dan Airbus SAS hari ini menandatangani Joint Declaration of Intent, perjanjian kerja sama yang menempatkan Indonesia sebagai mitra strategis salah satu produsen pesawat terbesar di dunia. Kemenperin menyambut langkah ini sebagai tonggak penting dalam membangun industri dirgantara nasional yang selama ini baru separuh jalan.

MENPERIN

Momentumnya memang tepat. Pasar penerbangan global sedang di titik tertingginya. Tapi kondisi industri aviasi Indonesia sendiri masih memperlihatkan kontradiksi yang perlu diselesaikan, dan kerja sama dengan Airbus baru bermakna jika kontradiksi itu dijawab.

Pasar Aviasi Global Sedang Meledak

Data McKinsey & Company mencatat pesanan pesawat komersial dunia mencapai rekor 15.700 unit sepanjang 2024, angka tertinggi dalam sejarah industri penerbangan. Industri ini tidak sedang stagnan; ia sedang dalam siklus ekspansi besar.

Indonesia berada di posisi yang strategis secara geografis dan demografis untuk memanfaatkan momen ini. IATA memproyeksikan Indonesia akan menjadi pasar penerbangan terbesar keempat di dunia pada 2030, melewati Jepang, Jerman, dan Inggris.

  • 15.700 unit  Pesanan pesawat global 2024 (rekor)
  • ke-4 dunia  Proyeksi posisi Indonesia di pasar aviasi global 2030
  • 578 unit  Jumlah pesawat beroperasi di Indonesia (2025)

Pasar terbesar keempat di dunia pada 2030, tapi armada yang beroperasi justru menyusut. Ini bukan kontradiksi kecil.

Yang Sudah Dimiliki Indonesia: PTDI dan Ekosistem MRO

Sebelum bicara kerja sama dengan Airbus, penting untuk tahu apa yang sudah ada. PT Dirgantara Indonesia (PTDI) adalah satu dari sedikit perusahaan di Asia Tenggara yang mampu memproduksi pesawat sendiri, bukan sekadar merakit komponen impor.

N219 →  TKDN 44,69%, pesawat perintis untuk daerah terpencil

NC212i →  TKDN 42,15%, andalan penerbangan perintis domestik

CN235 →  TKDN 38,74%, digunakan militer dan sipil

C295 →  TKDN 20,87%, produksi bersama Airbus Spanyol

Ekosistem pendukungnya juga sudah terbentuk: 12 perusahaan komponen pesawat di bawah INACOM, 7 di antaranya bersertifikat standar internasional AS9100. Ditambah 64 perusahaan MRO bersertifikat AMO yang tersebar di seluruh Indonesia.

Fondasi ini yang seharusnya jadi titik masuk kerja sama dengan Airbus, bukan membangun dari nol, melainkan mempercepat kapabilitas yang sudah ada.

Masalah yang Tidak Boleh Diabaikan

Di tengah proyeksi pasar yang cerah, industri MRO Indonesia sedang menghadapi tekanan dari tiga arah sekaligus: armada yang beroperasi menyusut ke 578 unit di 2025, gangguan rantai pasok global yang belum pulih sepenuhnya, dan biaya operasional yang terus naik.

Berkurangnya jumlah pesawat aktif langsung memukul pendapatan perusahaan MRO, karena lebih sedikit pesawat berarti lebih sedikit kontrak perawatan. Sementara itu, komponen pengganti dari luar negeri makin mahal dan lead time-nya makin panjang.

Respons pemerintah: bea masuk suku cadang pesawat dipangkas ke 0% melalui Skema Khusus Bab 98, mencakup 148 pos tarif dan 448 jenis barang. Kebijakan ini langsung menekan biaya perawatan dan memberi napas lebih bagi operator MRO lokal.

Tiga Komitmen Kemenperin dalam Kerja Sama Ini

Kemenperin tidak hanya “menyambut baik” kerja sama ini, mereka memasang tiga instrumen kebijakan konkret sebagai dukungan:

  • Prioritas industri →  Industri kedirgantaraan masuk sebagai sektor prioritas dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional. Bukan lagi sektor pelengkap, statusnya kini setara dengan industri strategis lain.
  • Insentif investasi →  Paket fiskal dan nonfiskal tersedia: bea masuk 0% untuk suku cadang, pembebasan larangan impor bahan baku, dan kemudahan perizinan.
  • Penguatan rantai pasok →  Pendampingan sertifikasi internasional untuk produsen komponen lokal dan peningkatan kapabilitas jasa reparasi, agar lebih banyak perusahaan lokal bisa masuk ke standar AS9100.

Deklarasi Ini Baru Permulaan

Joint Declaration of Intent adalah kerangka niat, bukan kontrak. Yang menentukan apakah kerja sama ini menghasilkan sesuatu adalah negosiasi teknis berikutnya: berapa persen komponen yang diproduksi di Indonesia, berapa banyak engineer lokal yang dilatih, dan apakah PTDI masuk ke rantai pasok Airbus secara bermakna atau hanya menjadi assembler.

“Kami berharap kolaborasi ini menghadirkan alih teknologi nyata, peningkatan kandungan lokal, dan penguatan SDM dirgantara, bukan sekadar menghasilkan kerangka kerja.”, Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita

Ambisi pasar ke-4 dunia pada 2030 masih empat tahun lagi. Waktu yang cukup untuk membuktikan bahwa kerja sama dengan Airbus ini bukan seremoni diplomatik, tapi betul-betul mengubah posisi Indonesia di peta industri penerbangan global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *