Produk Kriya dan Fesyen RI Sudah Bagus, Tapi Kenapa Masih Susah Naik Kelas?

Ekspor fesyen dan kriya tumbuh 15% lebih. Masalahnya bukan di kualitas produk, tapi di cara pelaku IKM membaca dan menjawab kebutuhan pasar.

Ada ironi besar di industri kriya dan fesyen Indonesia: kualitas produknya sudah diakui, desainernya berbakat, perajinnya terampil, tapi banyak yang bisnisnya jalan di tempat.

source : www.pexels.com

Masalahnya bukan pada tangan yang membuat. Masalahnya ada di kepala yang belum terbiasa berpikir seperti pasar.

Potensinya Nyata, Tapi Belum Maksimal

  • USD 806,63 juta  nilai ekspor fesyen & kriya Indonesia (2025)
  • +15,46%  pertumbuhan dibanding tahun sebelumnya

Angka ini besar, tapi bisa jauh lebih besar jika pelaku IKM punya strategi bisnis yang lebih tajam. Kemenperin melihat celah ini dan mulai bergerak mengisinya.

Akar Masalahnya: Jual Produk, Bukan Solusi

Riset Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) menemukan satu penyebab utama kegagalan bisnis IKM: produk yang dibuat tidak sesuai dengan apa yang benar-benar dibutuhkan pasar.

Banyak pelaku usaha masih terjebak pada fitur produk, bukan manfaat yang dirasakan pembeli. Contoh sederhananya:

  • Pendekatan lama: “Baju ini murah dan bahannya bagus.”
  • Pendekatan yang dijual pasar: “Pakaian kerja yang tetap nyaman dan stylish untuk profesional muda seharian penuh.”

Perbedaannya bukan pada produknya, tapi pada cara memahami siapa pembelinya dan apa yang mereka cari.

“Kreativitas perajin perlu diselaraskan dengan kebutuhan pasar, keberhasilan usaha tidak hanya bergantung pada kemampuan produksi.”, Kepala BPIFK, Dickie Sulistya Aprilyanto

Apa yang Dilakukan Kemenperin?

Ditjen IKMA Kemenperin menjalankan program Creative Talk di BPIFK Bali, forum diskusi yang mempertemukan akademisi, praktisi, komunitas, dan pelaku IKM untuk belajar merancang produk yang bernilai tambah lebih tinggi.

Sesi pertama pada 16 April 2026 membahas Value Proposition Design: cara mendefinisikan nilai produk dari sudut pandang pelanggan, bukan dari sudut pandang produsen. Program ini akan berlanjut dengan workshop dan bimbingan teknis secara berkala.

Satu Hal yang Perlu Diingat Pelaku IKM

Kemampuan membuat produk bagus adalah modal, bukan jaminan. Yang membedakan IKM yang bertumbuh dari yang stagnan adalah kemampuan membaca pasar: tren mana yang relevan, siapa target pembeli yang tepat, dan nilai apa yang harus dikomunikasikan.

“Produk fesyen dan kriya dalam negeri sudah layak bersanding, bahkan mampu melampaui produk luar negeri. Tapi diperlukan strategi yang tepat agar bisnisnya naik kelas.”, Menperin Agus Gumiwang

Dengan ekspor yang sudah tumbuh dua digit, fondasinya sudah ada. Pertanyaannya: apakah para pelaku IKM siap membangun di atas fondasi itu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *