Manufaktur RI Sedang Deindustrialisasi? Data Bilang Tidak, Tapi Cara Membacanya Harus Benar.

JAKARTA, 22 MEI 2026, Sebuah narasi yang cukup kuat beredar di kalangan ekonom dan analis kebijakan: industri manufaktur Indonesia sedang mengalami deindustrialisasi dini, kontribusinya terhadap PDB menyusut, pertumbuhannya tertinggal, dan pabrik-pabrik tidak lagi jadi mesin utama ekonomi.

sumber : https://www.kemenperin.go.id/

Kemenperin menolak narasi itu, bukan dengan bantahan retoris, tapi dengan membongkar kesalahan metodologi di balik data yang digunakan. Ada dua jebakan statistik yang membuat perbandingan data PDB manufaktur 2005–2025 menjadi menyesatkan, dan memahaminya penting sebelum menarik kesimpulan soal kondisi industri Indonesia.

Deindustrialisasi: Definisinya Ketat, Bukan Interpretasi

Dalam teori ekonomi, deindustrialisasi punya definisi yang presisi. Rowthorn dan Ramaswamy (1999), referensi standar dalam literatur ini, mendefinisikan deindustrialisasi sebagai kondisi ketika rasio PDB industri pengolahan terhadap PDB nasional menurun secara konsisten.

Indikatornya jelas: bukan soal apakah industri tumbuh atau tidak, tapi apakah pangsa relatifnya terhadap total ekonomi mengecil. Dengan definisi ini, data BPS justru menunjukkan tren sebaliknya.

  • 17,92%  Kontribusi PDB manufaktur terhadap PDB nasional, Q2 2022
  • 19,20%  Kontribusi PDB manufaktur terhadap PDB nasional, Q1 2026

Meningkat, bukan menurun  Tren pergerakan

Jika menggunakan definisi standar, data ini tidak mendukung narasi deindustrialisasi. Kontribusi manufaktur justru naik sekitar 1,3 poin persentase dalam empat tahun terakhir.

Masalahnya bukan pada kesimpulannya, tapi pada data yang digunakan sebagai pondasinya. Membandingkan rasio PDB manufaktur 2005 dengan 2025 secara langsung adalah kesalahan metodologi, bukan perbedaan interpretasi.

Dua Alasan Data 2005–2025 Tidak Bisa Dibandingkan Langsung

Kemenperin mengidentifikasi dua perubahan mendasar yang membuat perbandingan time series data PDB manufaktur 2005–2025 secara langsung menjadi tidak valid:

1. Definisi industri manufaktur berubah pada 2010  Sebelum 2010, tiga subsektor masih dihitung sebagai bagian dari industri pengolahan: Pengadaan Air & Daur Ulang, Informasi & Komunikasi, dan Jasa Lainnya. Pada 2010, BPS memisahkan ketiganya menjadi sektor tersendiri dengan perhitungan PDB independen. Akibatnya, PDB industri pengolahan secara nominal berkurang, bukan karena industrinya mengecil, tapi karena definisinya dipersempit.

2. Metode perhitungan PDB berubah dari Seri 2000 ke Seri 2010  PDB Seri 2000 dihitung berdasarkan harga produsen, termasuk pajak produk dan subsidi. PDB Seri 2010 beralih ke harga dasar, harga sebelum intervensi pemerintah. Perubahan metode ini secara sistematis menghasilkan nilai PDB yang lebih rendah untuk sektor-sektor yang menerima subsidi besar, termasuk industri manufaktur tertentu.

Kombinasi dua perubahan ini menghasilkan penurunan rasio PDB manufaktur yang terlihat pada data 2005–2025, tapi penurunan itu sebagian besar adalah artefak perubahan metode, bukan cermin kondisi industri yang sesungguhnya. Membandingkan angka 2005 dengan 2025 sama seperti membandingkan dua ukuran yang berbeda skalanya.

Indikator Kedua: Tidak Ada Pergeseran Tenaga Kerja

Deindustrialisasi dalam teori tidak hanya terlihat dari data PDB, tapi juga dari pergerakan tenaga kerja. Jika manufaktur sedang melemah secara fundamental, pekerja akan berpindah ke sektor lain, terutama jasa.

Data BPS menunjukkan yang sebaliknya:

  • 18,7 juta orang  Tenaga kerja industri pengolahan (2021)
  • 20,3 juta orang  Tenaga kerja industri pengolahan (2025)
  • +8,63%  Pertumbuhan dalam 4 tahun
  • +2,78%  Rata-rata pertumbuhan tenaga kerja per tahun

Tidak ada perpindahan massal pekerja dari manufaktur ke sektor jasa. Sektor jasa yang tumbuh pesat memang ada, tapi pertumbuhannya diisi oleh angkatan kerja baru, bukan oleh pekerja yang keluar dari manufaktur.

Pertama Kali dalam 13 Tahun: Manufaktur Tumbuh di Atas Ekonomi Nasional

Di balik perdebatan metodologi, ada satu fakta yang cukup signifikan untuk dicatat: pada 2025, untuk pertama kalinya sejak 2011, pertumbuhan industri pengolahan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.

5,30%  Pertumbuhan industri pengolahan 2025

5,11%  Pertumbuhan ekonomi nasional 2025

2011, 13 tahun yang lalu  Terakhir kali terjadi

Ini bukan angka yang bisa diabaikan. Selama 13 tahun, manufaktur selalu tumbuh di bawah ekonomi nasional, artinya pangsa relatifnya terus menyusut meski secara absolut tetap naik. Pada 2025, pola itu akhirnya berbalik.

Pertumbuhan manufaktur yang melampaui ekonomi nasional berarti sektor ini kembali menjadi penggerak, bukan sekadar penumpang pertumbuhan ekonomi.

Sinyal dari Lapangan: 633 Pabrik Baru dalam Proses

Selain data makro, ada sinyal mikro yang juga relevan: per 23 April 2026, sebanyak 633 perusahaan melaporkan pembangunan fasilitas produksi baru ke Kemenperin.

  • 633 perusahaan  Perusahaan yang membangun fasilitas produksi baru
  • Rp 418,62 triliun  Nilai investasi total
  • 219.684 orang  Potensi serapan tenaga kerja baru

Angka ini adalah indikator leading, sinyal tentang kondisi industri 1–3 tahun ke depan, bukan potret hari ini. Perusahaan tidak membangun pabrik baru di sektor yang mereka anggap sedang dalam fase penurunan.

Satu Pelajaran dari Perdebatan Ini

Perdebatan soal deindustrialisasi Indonesia sebenarnya adalah perdebatan yang produktif, jika dilandasi data yang dibaca dengan benar. Yang menjadi masalah adalah ketika kesimpulan besar ditarik dari perbandingan data yang berbeda definisi dan metode tanpa catatan metodologi yang memadai.

Kemenperin benar bahwa data 2005–2025 tidak bisa dibandingkan langsung. Tapi narasi deindustrialisasi juga tidak sepenuhnya salah arah, ada tantangan nyata di industri manufaktur Indonesia yang perlu diakui: produktivitas yang masih di bawah negara tetangga, dominasi industri padat karya yang belum bergeser cukup cepat ke nilai tambah tinggi, dan ketergantungan pada komoditas yang harganya siklikal.

Data yang benar adalah titik awal, bukan titik akhir diskusi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *