You are currently viewing Penyebab Permukaan Kasar pada Hasil Milling CNC dan Cara Mengatasinya

Penyebab permukaan kasar pada hasil milling CNC tidak selalu berasal dari satu faktor. Hasil finishing yang bergelombang, meninggalkan bekas cutter, atau memiliki nilai roughness tinggi dapat dipengaruhi oleh kondisi pahat, parameter pemotongan, kekakuan mesin, metode clamping, material benda kerja, hingga penggunaan coolant.

Masalah ini penting diperhatikan karena kualitas permukaan bukan hanya soal tampilan. Pada komponen presisi, permukaan yang terlalu kasar dapat memengaruhi proses assembly, kontak antarpart, keausan, sealing, maupun kesesuaian terhadap spesifikasi drawing.

Karena itu, memperbaiki surface finish pada proses milling CNC sebaiknya dilakukan dengan diagnosis berdasarkan pola cacat, bukan sekadar menurunkan feed rate atau mengganti cutter.

Apa yang Dimaksud Permukaan Kasar pada Hasil Milling CNC?

Permukaan kasar adalah kondisi ketika hasil pemotongan meninggalkan ketidakteraturan atau tekstur yang lebih besar dari standar finishing yang dibutuhkan. Dalam proses milling, pola tersebut dapat terlihat sebagai garis-garis pemakanan, bekas getaran, burr, gelombang, atau permukaan yang tidak merata.

Secara praktis, operator biasanya dapat menemukan beberapa gejala berikut:

  • Permukaan terlihat bergaris setelah finishing.
  • Bekas cutter terlihat sangat jelas.
  • Permukaan terasa kasar ketika disentuh.
  • Terdapat pola gelombang atau chatter.
  • Hasil finishing berbeda antara satu area dan area lainnya.
  • Surface roughness meningkat meskipun program CNC tidak berubah.
  • Permukaan memburuk setelah tool digunakan beberapa kali.

Perlu dibedakan antara pola bekas pemakanan normal dan roughness yang muncul akibat masalah proses. Sedikit jejak cutter memang dapat menjadi karakteristik proses milling, tetapi pola yang tidak konsisten, berlebihan, atau disertai getaran biasanya menunjukkan adanya faktor lain yang perlu diperiksa.

7 Penyebab Permukaan Kasar pada Hasil Milling CNC

Penyebab Permukaan Kasar pada Hasil Milling CNC

1. Feed Rate Terlalu Tinggi

Salah satu penyebab permukaan kasar pada hasil milling CNC adalah feed rate yang tidak sesuai dengan kemampuan cutter, material, dan target finishing.

Ketika feed per tooth terlalu besar, setiap gigi cutter mengambil material dalam jumlah lebih banyak. Pada kondisi finishing, hal ini dapat menghasilkan scallop atau bekas pemakanan yang lebih besar sehingga permukaan terlihat kasar.

Feed rate juga harus dilihat bersama jumlah flute dan spindle speed. Mengubah salah satu parameter tanpa mempertimbangkan parameter lainnya dapat mengubah beban pemotongan secara signifikan.

Untuk finishing, jangan langsung berasumsi bahwa feed harus dibuat serendah mungkin. Feed yang terlalu rendah juga dapat menyebabkan cutting edge tidak bekerja secara optimal pada kondisi tertentu.

Yang perlu diperiksa:

  • Feed rate.
  • Spindle speed.
  • Jumlah flute.
  • Feed per tooth.
  • Material benda kerja.
  • Diameter dan jenis cutter.
  • Target surface finish.

Pendekatan yang lebih aman adalah menyesuaikan parameter berdasarkan spesifikasi tool manufacturer dan kondisi aktual mesin.

2. Spindle Speed Tidak Sesuai

Spindle speed yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat memengaruhi kualitas permukaan. Pada kombinasi parameter tertentu, putaran spindle yang tidak tepat dapat membuat proses pemotongan menjadi tidak stabil. Jika muncul getaran, suara abnormal, atau pola permukaan berulang, parameter spindle perlu diperiksa bersama feed dan engagement.

Jangan menganalisis RPM secara terpisah. Dalam milling CNC, RPM, feed rate, diameter cutter, jumlah flute, dan material saling berkaitan. Sebagai contoh, mengganti cutter dari diameter kecil ke diameter lebih besar tanpa menghitung ulang parameter dapat mengubah kondisi pemotongan secara signifikan.

3. Cutter Sudah Aus atau Cutting Edge Rusak

Tool wear merupakan penyebab penting ketika kualitas permukaan semakin buruk setelah mesin beroperasi beberapa waktu. Cutter yang sudah aus tidak lagi memotong dengan kondisi edge seperti tool baru. Cutting edge yang tumpul dapat meningkatkan gaya potong dan menghasilkan permukaan yang lebih buruk.

Periksa cutter apabila:

  • Finishing awalnya bagus lalu memburuk.
  • Suara cutting berubah.
  • Muncul burr lebih banyak.
  • Permukaan memiliki pola yang tidak biasa.
  • Tool mengalami chipping.
  • Temperatur pemotongan meningkat.

Jangan hanya melihat apakah cutter masih bisa memotong. Tool yang secara visual masih terlihat utuh belum tentu masih mampu menghasilkan surface finish sesuai spesifikasi.

Untuk proses produksi, kondisi tool sebaiknya dipantau berdasarkan umur tool, jumlah part, beban pemotongan, dan kualitas hasil aktual.

4. Chatter atau Getaran Saat Milling

Jika permukaan hasil milling memiliki pola gelombang yang berulang, chatter patut dicurigai. Chatter adalah getaran dinamis selama proses pemotongan yang dapat terjadi akibat kombinasi kondisi mesin, tool, holder, benda kerja, dan parameter pemotongan. Getaran tersebut kemudian “tercetak” pada permukaan benda kerja.

Beberapa faktor yang dapat memperbesar risiko chatter antara lain:

  • Tool stick-out terlalu panjang.
  • Holder kurang rigid.
  • Benda kerja kurang kuat dijepit.
  • Fixture terlalu fleksibel.
  • Tool diameter terlalu kecil untuk kondisi pemotongan.
  • Radial atau axial engagement tidak sesuai.
  • Parameter cutting berada pada kondisi yang tidak stabil.

Ciri chatter biasanya lebih mudah dikenali dibanding roughness biasa. Selain permukaan bergelombang, operator dapat mendengar suara bergetar atau suara cutting yang berubah secara periodik.

Jika masalahnya chatter, menurunkan feed saja belum tentu menyelesaikan masalah. Kekakuan setup dan kombinasi parameter harus diperiksa.

Artikel Terkait :
Penyebab Getaran pada Proses Machining (Chatter)

5. Tool Stick-Out Terlalu Panjang

Semakin panjang bagian tool yang keluar dari holder, semakin besar kecenderungan tool mengalami defleksi dan getaran. Ini sering menjadi masalah pada proses machining pocket dalam, cavity, atau area yang sulit dijangkau.

Misalnya, operator menggunakan extension tool yang panjang agar cutter dapat mencapai dasar cavity. Secara geometris cutter memang dapat mencapai area tersebut, tetapi rigidity sistem menjadi lebih rendah.

Akibatnya, tool dapat mengalami defleksi ketika menerima gaya potong.

Jika memungkinkan, gunakan tool stick-out sesingkat mungkin sesuai kebutuhan geometri benda kerja. Untuk pekerjaan yang membutuhkan jangkauan panjang, pemilihan tool, holder, diameter cutter, dan parameter pemotongan perlu disesuaikan sejak awal.

6. Benda Kerja atau Fixture Kurang Kaku

Permukaan kasar tidak selalu disebabkan oleh cutter. Benda kerja yang bergerak sedikit selama proses juga dapat menghasilkan finishing yang buruk.

Clamping yang kurang kuat dapat menyebabkan benda kerja bergetar ketika menerima gaya pemotongan. Pada material tipis atau komponen berdinding tipis, masalah ini bahkan bisa muncul meskipun fixture terlihat sudah kuat.

Perhatikan:

  • Posisi titik clamping.
  • Jumlah clamp.
  • Kondisi fixture.
  • Area kontak benda kerja dengan fixture.
  • Ketebalan dan bentuk benda kerja.
  • Potensi deformasi akibat clamping.

Untuk komponen tipis, gaya clamping yang terlalu besar juga perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan benda kerja berubah bentuk saat dijepit dan kembali berubah setelah dilepas.

Jadi, masalahnya bukan hanya “kurang kuat”. Setup harus cukup rigid tanpa memberikan deformasi yang tidak diinginkan.

7. Coolant dan Evakuasi Chip Tidak Optimal

Chip yang tidak terbuang dengan baik dapat kembali masuk ke area pemotongan. Kondisi ini berpotensi menghasilkan recutting, terutama ketika proses menghasilkan banyak chip.

Coolant juga berperan dalam membantu mengendalikan temperatur dan membersihkan area pemotongan, tergantung material dan jenis proses.

Jika finishing tiba-tiba memburuk setelah pocket semakin dalam, periksa apakah chip dapat keluar dari area tersebut dengan baik.

Hal yang dapat diperiksa:

  • Arah coolant.
  • Tekanan dan aliran coolant.
  • Kondisi nozzle.
  • Kemampuan chip evacuation cutter.
  • Penumpukan chip di pocket.
  • Penggunaan air blast jika sesuai dengan proses.

Namun, coolant bukan solusi universal untuk semua masalah surface finish. Jika akar masalahnya adalah chatter atau tool wear, memperbanyak coolant saja tidak akan menyelesaikan penyebab utamanya.

Artikel Terkait : Jenis Coolant CNC, Apa Fungsinya

Cara Menentukan Penyebab Permukaan Kasar pada Hasil Milling CNC

Daripada mengubah banyak parameter sekaligus, gunakan pendekatan diagnosis yang sistematis.

Langkah 1: Periksa Pola Permukaan

Amati bentuk cacat pada benda kerja.

Jika terlihat gelombang berulang, periksa kemungkinan chatter dan rigidity.

Jika terlihat bekas cutter yang teratur tetapi terlalu besar, periksa feed dan strategi finishing.

Jika permukaan semakin buruk dari waktu ke waktu, periksa tool wear.

Jika hanya area tertentu yang kasar, periksa engagement, toolpath, clamping, atau kondisi geometri pada area tersebut.

Langkah 2: Periksa Kondisi Cutter

Pastikan cutting edge tidak mengalami:

  • Keausan berlebihan.
  • Chipping.
  • Built-up edge.
  • Kerusakan coating.
  • Kerusakan akibat collision.

Jika tool sudah menunjukkan kerusakan, melakukan optimasi parameter sebelum mengganti tool dapat menghasilkan diagnosis yang keliru.

Langkah 3: Periksa Rigidity Setup

Periksa seluruh rantai pemotongan:

spindle → holder → tool → benda kerja → fixture → mesin.

Satu bagian yang terlalu fleksibel dapat memengaruhi keseluruhan proses.

Periksa terutama tool stick-out, kondisi holder, fixture, dan cara benda kerja dijepit.

Langkah 4: Evaluasi Parameter Cutting

Review parameter secara bersamaan:

  • Spindle speed.
  • Feed rate.
  • Feed per tooth.
  • Axial depth of cut.
  • Radial width of cut.
  • Tool diameter.
  • Jumlah flute.
  • Material benda kerja.

Jangan mengubah lima parameter sekaligus. Ubah satu variabel utama, kemudian bandingkan hasilnya.

Metode ini membantu mengetahui parameter mana yang benar-benar memengaruhi surface finish.

Langkah 5: Ukur Surface Roughness

Penilaian visual dan sentuhan berguna untuk pemeriksaan awal, tetapi tidak cukup jika drawing menentukan nilai roughness tertentu. Gunakan alat ukur surface roughness yang sesuai dan catat hasil pengukuran. Dengan demikian, perubahan parameter dapat dibandingkan berdasarkan data, bukan hanya berdasarkan persepsi operator.

Tabel Diagnosis Cepat Permukaan Kasar

Gejala pada permukaanKemungkinan penyebabPemeriksaan awal
Pola gelombang berulangChatter/getaranRigidity, stick-out, parameter
Bekas cutter terlalu jelasFeed atau toolpathFeed per tooth dan strategi finishing
Surface finish makin burukTool wearKondisi cutting edge
Kasar hanya pada area tertentuEngagement/setupToolpath dan geometri area
Banyak burrTool wear/parameterCutting edge dan kondisi pemotongan
Chip menumpuk di pocketEvakuasi chip burukCoolant, air blast, flute geometry
Hasil berubah setelah clampingDeformasi benda kerjaFixture dan gaya clamping

Apakah Menurunkan Feed Selalu Membuat Hasil Milling Lebih Halus?

Tidak selalu.

Menurunkan feed dapat mengurangi beban pemakanan pada kondisi tertentu, tetapi surface finish merupakan hasil interaksi banyak variabel. Jika sumber masalahnya adalah chatter, tool wear, tool stick-out, atau benda kerja yang tidak rigid, penurunan feed mungkin hanya mengubah gejalanya tanpa menghilangkan akar masalah.

Karena itu, troubleshooting sebaiknya dimulai dari pola cacat dan kondisi proses.

Jika terdapat chatter, fokus pertama adalah stabilitas sistem. Jika cutter aus, ganti atau evaluasi tool. Jika bekas pemakanan terlalu besar, evaluasi feed dan strategi toolpath.

Parameter Apa yang Paling Berpengaruh terhadap Surface Finish?

Tidak ada satu parameter yang selalu menjadi faktor terbesar pada semua kondisi milling.

Secara umum, kualitas permukaan dipengaruhi oleh kombinasi:

  1. Feed per tooth dan kondisi pemakanan.
  2. Spindle speed.
  3. Geometri dan kondisi cutter.
  4. Tool stick-out dan rigidity.
  5. Depth dan width of cut.
  6. Material benda kerja.
  7. Rigidity fixture dan clamping.
  8. Toolpath dan strategi finishing.
  9. Evakuasi chip dan kondisi coolant.

Inilah alasan troubleshooting CNC sebaiknya tidak menggunakan pendekatan “satu parameter untuk semua masalah”.

Checklist Sebelum Menyalahkan Mesin CNC

Jika hasil finishing milling tiba-tiba kasar, lakukan pemeriksaan berikut secara berurutan:

  • Periksa kondisi cutting edge.
  • Pastikan tool holder bersih dan terpasang dengan benar.
  • Periksa tool stick-out.
  • Periksa rigidity fixture.
  • Pastikan benda kerja tidak bergerak.
  • Periksa spindle speed dan feed rate.
  • Hitung kembali feed per tooth jika tool atau jumlah flute berubah.
  • Periksa depth dan width of cut.
  • Dengarkan apakah muncul suara chatter.
  • Periksa penumpukan chip.
  • Pastikan coolant atau air blast mencapai area cutting.
  • Ukur surface roughness jika nilai Ra/Rz ditentukan pada drawing.

Urutan ini membantu mencegah perubahan parameter secara acak dan membuat proses troubleshooting lebih terukur.

Kesimpulan

Penyebab permukaan kasar pada hasil milling CNC dapat berasal dari parameter cutting, cutter yang aus, chatter, tool stick-out, fixture, clamping, toolpath, hingga masalah evakuasi chip. Karena beberapa penyebab menghasilkan gejala yang mirip, diagnosis harus dilakukan berdasarkan pola permukaan dan kondisi proses.

Cara paling efektif bukan sekadar menurunkan feed atau menaikkan RPM. Periksa tool, rigidity, parameter, setup, coolant, dan hasil pengukuran surface roughness secara sistematis. Untuk proses produksi, hasil finishing yang konsisten membutuhkan parameter yang terdokumentasi, tool yang terkontrol, setup yang rigid, serta pemeriksaan kualitas yang dapat diukur. Dengan pendekatan tersebut, masalah permukaan kasar dapat ditelusuri sampai ke penyebabnya dan bukan hanya diperbaiki sementara.

Please Share This Article

Author
  • noval

    Saya (Noval) adalah Machining Expert juga sebagai Operasional Manager di Teknik Jaya Component. Ahli Praktek dan Teori di bidang CNC Bubut dan Milling machining. Sudah Lebih dari 10 tahun berpengalaman di bidang machining dan pembuatan spare part industrial. Termasuk juga, saya membuat konten-konten mengenai pengerjaan logam terutama teknik mesin industri sub-bidang machining. hubungi saya di noval@teknikjaya.co.id dan Linked in : Noval Abu Said

Tinggalkan Balasan