{"id":659,"date":"2026-05-13T20:33:05","date_gmt":"2026-05-13T13:33:05","guid":{"rendered":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/?p=659"},"modified":"2026-05-13T20:33:19","modified_gmt":"2026-05-13T13:33:19","slug":"indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\/","title":{"rendered":"Indonesia Punya 162 Jenis Bambu dan 2,4 Juta Hektare Kebunnya. Kenapa Nilainya Masih Rendah?"},"content":{"rendered":"\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-28f84493 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column has-white-color has-text-color has-background has-link-color wp-elements-3d14e93bc6da9ed6598d265a518db97a is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"background-color:#003e62;padding-top:var(--wp--preset--spacing--30);padding-right:var(--wp--preset--spacing--40);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--30);padding-left:var(--wp--preset--spacing--40)\"><div class=\"yoast-breadcrumbs\"><span><span><a href=\"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/\">Home<\/a><\/span> \u00bb <span><a href=\"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/https:\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/\">Bisnis<\/a><\/span> \u00bb <span class=\"breadcrumb_last\" aria-current=\"page\">Indonesia Punya 162 Jenis Bambu dan 2,4 Juta Hektare Kebunnya. Kenapa Nilainya Masih Rendah?<\/span><\/span><\/div><\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p><strong>HULU SUNGAI SELATAN, KALSEL, <\/strong>Bambu tumbuh di mana-mana di Indonesia. Tapi produk kerajinannya jarang yang tampil di etalase butik premium, apalagi masuk ke platform ekspor global. Bukan karena materialnya buruk, justru sebaliknya. Masalahnya ada di antara bambu yang sudah dipanen dan pembeli yang bersedia membayar lebih.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"682\" src=\"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Pacu-Industri-Hijau-Kemenperin-Optimalkan-Sentra-IKM-Kerajinan-Bambu-1024x682.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-662\" srcset=\"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Pacu-Industri-Hijau-Kemenperin-Optimalkan-Sentra-IKM-Kerajinan-Bambu-1024x682.webp 1024w, https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Pacu-Industri-Hijau-Kemenperin-Optimalkan-Sentra-IKM-Kerajinan-Bambu-300x200.webp 300w, https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Pacu-Industri-Hijau-Kemenperin-Optimalkan-Sentra-IKM-Kerajinan-Bambu-768x512.webp 768w, https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Pacu-Industri-Hijau-Kemenperin-Optimalkan-Sentra-IKM-Kerajinan-Bambu.webp 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">pendampingan pengrajin berbasis bambu<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Di situlah program pendampingan Kemenperin untuk 35 perajin bambu di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (5\u20138 Mei 2026) menemukan konteksnya. Bukan program pemerintah biasa, tapi intervensi di titik yang selama ini paling sering gagal: mengubah bahan baku melimpah menjadi produk yang benar-benar diminati pasar.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Angka yang Bikin Kita Bertanya: Kenapa Belum Lebih Besar?<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>ada <strong>162 jenis&nbsp; <\/strong>Jenis bambu endemik Indonesia<\/li>\n\n\n\n<li>Terdapat <strong>2,4 juta hektare&nbsp; <\/strong>Luas kebun bambu nasional<\/li>\n\n\n\n<li><strong>&gt; 11 juta batang&nbsp; <\/strong>Produksi bambu per tahun<\/li>\n\n\n\n<li><strong>+25,09%&nbsp; <\/strong>Pertumbuhan ekspor kerajinan Februari 2026 (yoy)<\/li>\n\n\n\n<li><strong>USD 10,34 juta&nbsp; <\/strong>Nilai ekspor kerajinan Februari 2026<\/li>\n\n\n\n<li><strong>2,10%&nbsp; <\/strong>Kontribusi industri kerajinan terhadap PDB nonmigas<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Angka pertumbuhan 25% itu terdengar besar, dan memang besar. Tapi dari basis yang kecil: USD 10 juta adalah nilai ekspor satu bulan untuk produk kerajinan seluruh Indonesia. Bandingkan dengan Vietnam yang nilai ekspor furnitur dan kerajinannya saja sudah melampaui USD 15 miliar per tahun.<\/p>\n\n\n\n<p>Potensinya ada. Bahan bakunya ada. Pengrajinnya ada. Yang belum optimal adalah jembatan antara ketiganya dan pasar yang bersedia membayar harga premium.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tiga Hal yang Dilatihkan, dan Mengapa Ketiganya Penting<\/h2>\n\n\n\n<p>Program pendampingan di Hulu Sungai Selatan bukan sekadar pelatihan kerajinan umum. Tiga fokusnya dipilih karena menyasar titik lemah yang paling sering membuat produk lokal gagal bersaing:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Desain produk baru , <\/strong>Pasar premium tidak membeli &#8220;kerajinan bambu.&#8221; Mereka membeli objek dekoratif, perabot rumah, atau aksesoris dengan estetika yang relevan dengan tren saat ini. Desain adalah bahasa yang berbicara ke dompet pembeli.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Teknik pengawetan bambu , <\/strong>Salah satu alasan bambu sering kalah dari material lain di pasar ekspor adalah kekhawatiran soal daya tahan. Pengawetan yang benar memperpanjang usia produk dan membuka akses ke pasar yang lebih ketat standar kualitasnya.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kemasan modern , <\/strong>Di era media sosial dan e-commerce, kemasan adalah bagian dari produk itu sendiri. Kerajinan bambu berkualitas tinggi yang dikemas asal-asalan akan kalah dari produk biasa yang dikemas dengan baik.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong><em>&#8220;Konsumen saat ini tidak hanya mempertimbangkan fungsi produk, mereka memperhatikan desain, estetika, inovasi, dan kemasan ramah lingkungan.&#8221;, Budi Setiawan, Direktorat IKM Kemenperin<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Bambu Bukan Material Tradisional, Ini Material Masa Depan<\/h2>\n\n\n\n<p>Tren global sedang bergerak tepat ke arah yang diunggulkan bambu: material yang cepat tumbuh, menyerap karbon lebih banyak dari pohon biasa, tidak butuh pestisida, dan bisa dipanen tanpa merusak sistem akar. Di pasar Eropa dan Amerika, produk berbahan bambu sering dijual dengan premium &#8220;sustainable&#8221; yang signifikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia dengan 162 jenis bambu endemik dan 2,4 juta hektare kebun seharusnya menjadi pemasok utama dunia untuk kategori ini. Tapi selama ini yang lebih banyak mengekspor produk bambu olahan ke pasar premium justru China dan Vietnam, negara yang bambunya lebih sedikit tapi industrialisasi produknya jauh lebih maju.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Bambu Indonesia bukan kurang bagus. Yang kurang adalah industrialisasi di antara panen dan penjualan, desain, standarisasi, kemasan, dan distribusi.<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Mengapa Model Sentra Lebih Efektif dari Pelatihan Individual?<\/h2>\n\n\n\n<p>Kemenperin memilih pendekatan berbasis sentra, membina kelompok perajin dalam satu ekosistem, bukan melatih perajin satu per satu. Logikanya masuk akal secara bisnis: rantai pasok bisa dikollektifkan, standar kualitas lebih mudah diterapkan seragam, dan kapasitas produksi lebih mudah ditingkatkan saat ada pesanan besar.<\/p>\n\n\n\n<p>Perajin individual sulit memenuhi pesanan 1.000 unit dengan kualitas konsisten. Sentra yang sudah terorganisasi bisa. Dan konsistensi kualitas adalah syarat masuk ke banyak rantai ritel internasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Di Hulu Sungai Selatan, kolaborasi juga diperluas ke IKM dodol khas daerah, produk hasil pendampingan bambu akan dikembangkan kemasannya bersama, lalu dipromosikan melalui pusat oleh-oleh dan dipamerkan di Pameran HUT Dekranas di Makassar serta Pameran Kriyanusa.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Dari Pelatihan ke Pasar: Jarak yang Masih Harus Ditempuh<\/h2>\n\n\n\n<p>Program lima hari dengan 35 perajin adalah permulaan yang baik, tapi bukan garis finis. Yang menentukan apakah pelatihan ini menghasilkan dampak nyata adalah apa yang terjadi sesudahnya: apakah produk barunya berhasil masuk ke kanal distribusi yang tepat, apakah pembelinya ada, dan apakah harganya bisa naik dari sebelumnya. Kerajinan bambu Hulu Sungai Selatan punya semua modal awal yang dibutuhkan: bahan baku melimpah, perajin yang terampil, dan dukungan pemerintah daerah. Satu hal yang masih perlu dibuktikan: bahwa pasar luar, domestik maupun ekspor, bersedia membayar harga yang mencerminkan nilai sebenarnya dari produk itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-vivid-cyan-blue-color has-text-color has-link-color has-small-font-size wp-elements-ffa6e8dffce5565ccc216b6ab6ea13b3\">sumber : https:\/\/kemenperin.go.id\/artikel\/72482744\/Pacu-Industri-Hijau,-Kemenperin-Optimalkan-Sentra-IKM-Kerajinan-Bambu<\/p>\n\n\n<div id=\"block-aef2ce40-cc1e-4739-841d-a76678f73344\"><div class=\"sb-news-module-six wp-block-smart-blocks wp-block-smart-blocks-news-module-six\"><h2 class=\"sb-block-title sb-title-style2 \"><span>Artikel Lainnya<\/span><\/h2><div class=\"sb-news-module-six-wrap\"><div class=\"sb-big-block\"><div class=\"sb-post-item\"><div class=\"sb-post-thumb\"><a href=\"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/perang-di-timur-tengah-tak-mampu-membendung-ekspor-china-boom-ai-yang-jadi-penyelamatnya\/\"><div class=\"sb-thumb-container\"><img decoding=\"async\" alt=\"Perang di Timur Tengah Tak Mampu Membendung Ekspor China. Boom AI yang Jadi Penyelamatnya\" src=\"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/kegiatan-ekspor-impor-china-1024x505.webp\"><\/div><div class=\"sb-post-content sb-gradient-overlay\"><h3 class=\"sb-large-title sb-post-title \"><span>Perang di Timur Tengah Tak Mampu Membendung Ekspor China. Boom AI yang Jadi Penyelamatnya<\/span><\/h3><div class=\"sb-post-meta\"><span class=\"sb-post-author \"><i class=\"mdi-account\"><\/i>Rani Rahmawati<\/span><span class=\"sb-post-date \"><i class=\"mdi-clock-time-four-outline\"><\/i>May 9, 2026<\/span><span class=\"sb-post-comment \"><i class=\"mdi-comment-outline\"><\/i>0<\/span><\/div><\/div><\/a><ul class=\"post-categories\">\n\t<li><a href=\"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/https:\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/\" rel=\"category tag\">Bisnis<\/a><\/li><\/ul><\/div><\/div><\/div><div class=\"sb-small-block\"><div class=\"sb-post-item\"><div class=\"sb-post-thumb\"><a href=\"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\/\"><div class=\"sb-thumb-container\"><img decoding=\"async\" alt=\"Indonesia Punya 162 Jenis Bambu dan 2,4 Juta Hektare Kebunnya. Kenapa Nilainya Masih Rendah?\" src=\"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Pacu-Industri-Hijau-Kemenperin-Optimalkan-Sentra-IKM-Kerajinan-Bambu-1024x682.webp\"><\/div><\/a><\/div><div class=\"sb-post-content\"><h3 class=\"sb-post-title \"><a href=\"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\/\">Indonesia Punya 162 Jenis Bambu dan 2,4 Juta Hektare Kebunnya. Kenapa Nilainya Masih Rendah?<\/a><\/h3><div class=\"sb-post-meta\"><span class=\"sb-post-date \"><i class=\"mdi-clock-time-four-outline\"><\/i>May 13, 2026<\/span><\/div><div class=\"sb-excerpt\"><\/div><\/div><\/div><div class=\"sb-post-item\"><div class=\"sb-post-thumb\"><a href=\"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/produk-kriya-dan-fesyen-ri-sudah-bagus-tapi-kenapa-masih-susah-naik-kelas\/\"><div class=\"sb-thumb-container\"><img decoding=\"async\" alt=\"Produk Kriya dan Fesyen RI Sudah Bagus, Tapi Kenapa Masih Susah Naik Kelas?\" src=\"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/seni-kriya.jpg\"><\/div><\/a><\/div><div class=\"sb-post-content\"><h3 class=\"sb-post-title \"><a href=\"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/produk-kriya-dan-fesyen-ri-sudah-bagus-tapi-kenapa-masih-susah-naik-kelas\/\">Produk Kriya dan Fesyen RI Sudah Bagus, Tapi Kenapa Masih Susah Naik Kelas?<\/a><\/h3><div class=\"sb-post-meta\"><span class=\"sb-post-date \"><i class=\"mdi-clock-time-four-outline\"><\/i>April 30, 2026<\/span><\/div><div class=\"sb-excerpt\"><\/div><\/div><\/div><\/div><\/div><\/div><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>HULU SUNGAI SELATAN, KALSEL, Bambu tumbuh di mana-mana di Indonesia. Tapi produk kerajinannya jarang yang tampil di etalase butik premium, apalagi masuk ke platform ekspor global. Bukan karena materialnya buruk, justru sebaliknya. Masalahnya ada di antara bambu yang sudah dipanen dan pembeli yang bersedia membayar lebih. Di situlah program pendampingan Kemenperin untuk 35 perajin bambu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"sb_editor_width":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-659","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bisnis"],"relative_dates":{"created":"1 day ago","modified":"1 day ago"},"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.5 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>2,10%\u00a0 Kontribusi industri kerajinan terhadap PDB nonmigas<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Bukan karena materialnya buruk, justru sebaliknya. Masalahnya ada di antara bambu yang sudah dipanen dan pembeli yang bersedia membayar lebih.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"2,10%\u00a0 Kontribusi industri kerajinan terhadap PDB nonmigas\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Bukan karena materialnya buruk, justru sebaliknya. Masalahnya ada di antara bambu yang sudah dipanen dan pembeli yang bersedia membayar lebih.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Teknik Jaya News\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-05-13T13:33:05+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-05-13T13:33:19+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Pacu-Industri-Hijau-Kemenperin-Optimalkan-Sentra-IKM-Kerajinan-Bambu.webp\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1280\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"853\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/webp\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Rani Rahmawati\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Rani Rahmawati\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/bisnis\\\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/bisnis\\\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Rani Rahmawati\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/cc157e952642528280b7e680bf731745\"},\"headline\":\"Indonesia Punya 162 Jenis Bambu dan 2,4 Juta Hektare Kebunnya. Kenapa Nilainya Masih Rendah?\",\"datePublished\":\"2026-05-13T13:33:05+00:00\",\"dateModified\":\"2026-05-13T13:33:19+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/bisnis\\\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\\\/\"},\"wordCount\":707,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/bisnis\\\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/05\\\/Pacu-Industri-Hijau-Kemenperin-Optimalkan-Sentra-IKM-Kerajinan-Bambu.webp\",\"articleSection\":[\"Bisnis\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/bisnis\\\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/bisnis\\\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/bisnis\\\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\\\/\",\"name\":\"2,10%\u00a0 Kontribusi industri kerajinan terhadap PDB nonmigas\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/bisnis\\\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/bisnis\\\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/05\\\/Pacu-Industri-Hijau-Kemenperin-Optimalkan-Sentra-IKM-Kerajinan-Bambu.webp\",\"datePublished\":\"2026-05-13T13:33:05+00:00\",\"dateModified\":\"2026-05-13T13:33:19+00:00\",\"description\":\"Bukan karena materialnya buruk, justru sebaliknya. Masalahnya ada di antara bambu yang sudah dipanen dan pembeli yang bersedia membayar lebih.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/bisnis\\\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/bisnis\\\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/bisnis\\\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/05\\\/Pacu-Industri-Hijau-Kemenperin-Optimalkan-Sentra-IKM-Kerajinan-Bambu.webp\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/05\\\/Pacu-Industri-Hijau-Kemenperin-Optimalkan-Sentra-IKM-Kerajinan-Bambu.webp\",\"width\":1280,\"height\":853,\"caption\":\"Pacu Industri Hijau, Kemenperin Optimalkan Sentra IKM Kerajinan Bambu\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/bisnis\\\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Bisnis\",\"item\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/https:\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/bisnis\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Indonesia Punya 162 Jenis Bambu dan 2,4 Juta Hektare Kebunnya. Kenapa Nilainya Masih Rendah?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/\",\"name\":\"Teknik Jaya News\",\"description\":\"Berita Industri, Manufaktur, dan Engineering\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/#organization\",\"name\":\"Teknik Jaya News\",\"url\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/04\\\/cropped-Header-Baru.webp\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/04\\\/cropped-Header-Baru.webp\",\"width\":1310,\"height\":262,\"caption\":\"Teknik Jaya News\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/cc157e952642528280b7e680bf731745\",\"name\":\"Rani Rahmawati\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/aadf4e1703014135b8bc49d48b24ec63057e3d82713cf9135e102890b68dee0b?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/aadf4e1703014135b8bc49d48b24ec63057e3d82713cf9135e102890b68dee0b?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/aadf4e1703014135b8bc49d48b24ec63057e3d82713cf9135e102890b68dee0b?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Rani Rahmawati\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/teknikjaya.co.id\\\/news\\\/author\\\/rani-rahmawati\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"2,10%\u00a0 Kontribusi industri kerajinan terhadap PDB nonmigas","description":"Bukan karena materialnya buruk, justru sebaliknya. Masalahnya ada di antara bambu yang sudah dipanen dan pembeli yang bersedia membayar lebih.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"2,10%\u00a0 Kontribusi industri kerajinan terhadap PDB nonmigas","og_description":"Bukan karena materialnya buruk, justru sebaliknya. Masalahnya ada di antara bambu yang sudah dipanen dan pembeli yang bersedia membayar lebih.","og_url":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\/","og_site_name":"Teknik Jaya News","article_published_time":"2026-05-13T13:33:05+00:00","article_modified_time":"2026-05-13T13:33:19+00:00","og_image":[{"width":1280,"height":853,"url":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Pacu-Industri-Hijau-Kemenperin-Optimalkan-Sentra-IKM-Kerajinan-Bambu.webp","type":"image\/webp"}],"author":"Rani Rahmawati","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Rani Rahmawati","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\/"},"author":{"name":"Rani Rahmawati","@id":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/#\/schema\/person\/cc157e952642528280b7e680bf731745"},"headline":"Indonesia Punya 162 Jenis Bambu dan 2,4 Juta Hektare Kebunnya. Kenapa Nilainya Masih Rendah?","datePublished":"2026-05-13T13:33:05+00:00","dateModified":"2026-05-13T13:33:19+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\/"},"wordCount":707,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Pacu-Industri-Hijau-Kemenperin-Optimalkan-Sentra-IKM-Kerajinan-Bambu.webp","articleSection":["Bisnis"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\/","url":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\/","name":"2,10%\u00a0 Kontribusi industri kerajinan terhadap PDB nonmigas","isPartOf":{"@id":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Pacu-Industri-Hijau-Kemenperin-Optimalkan-Sentra-IKM-Kerajinan-Bambu.webp","datePublished":"2026-05-13T13:33:05+00:00","dateModified":"2026-05-13T13:33:19+00:00","description":"Bukan karena materialnya buruk, justru sebaliknya. Masalahnya ada di antara bambu yang sudah dipanen dan pembeli yang bersedia membayar lebih.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\/#primaryimage","url":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Pacu-Industri-Hijau-Kemenperin-Optimalkan-Sentra-IKM-Kerajinan-Bambu.webp","contentUrl":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Pacu-Industri-Hijau-Kemenperin-Optimalkan-Sentra-IKM-Kerajinan-Bambu.webp","width":1280,"height":853,"caption":"Pacu Industri Hijau, Kemenperin Optimalkan Sentra IKM Kerajinan Bambu"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/indonesia-punya-162-jenis-bambu-dan-24-juta-hektare-kebunnya-kenapa-nilainya-masih-rendah\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Bisnis","item":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/https:\/teknikjaya.co.id\/news\/bisnis\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Indonesia Punya 162 Jenis Bambu dan 2,4 Juta Hektare Kebunnya. Kenapa Nilainya Masih Rendah?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/#website","url":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/","name":"Teknik Jaya News","description":"Berita Industri, Manufaktur, dan Engineering","publisher":{"@id":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/#organization","name":"Teknik Jaya News","url":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/cropped-Header-Baru.webp","contentUrl":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/cropped-Header-Baru.webp","width":1310,"height":262,"caption":"Teknik Jaya News"},"image":{"@id":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/#\/schema\/person\/cc157e952642528280b7e680bf731745","name":"Rani Rahmawati","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/aadf4e1703014135b8bc49d48b24ec63057e3d82713cf9135e102890b68dee0b?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/aadf4e1703014135b8bc49d48b24ec63057e3d82713cf9135e102890b68dee0b?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/aadf4e1703014135b8bc49d48b24ec63057e3d82713cf9135e102890b68dee0b?s=96&d=mm&r=g","caption":"Rani Rahmawati"},"url":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/author\/rani-rahmawati\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/659","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=659"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/659\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":663,"href":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/659\/revisions\/663"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=659"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=659"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/teknikjaya.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=659"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}