Eh, kamu pernah nggak sih lagi rencanain road trip panjang, misalnya Jakarta ke Jogja atau bahkan lintas Sumatera? Tiba-tiba mikir, “Mobil bensin apa diesel ya yang lebih ramah dompet di SPBU?” Saya sering banget dapat pertanyaan ini dari temen-temen. Yuk, kita bongkar bareng secara jujur, tanpa lebay.
Saya sendiri pernah pakai mobil diesel buat trip Surabaya-Bali pulang pergi. Hasilnya? Bener-bener hemat! Tangki penuh Solar bisa tembus 700+ km di tol. Bandingkan kalau pakai bensin, biasanya habis lebih cepat. Tapi ini bukan cuma feeling doang, ada alasan fisikanya.

Kenapa Diesel Biasanya Menang di Jarak Jauh?
Kita definisikan dulu: perjalanan jarak jauh itu minimal 200 km, kecepatan stabil di tol, jarang rem mendadak. Di situ, mesin diesel unggul telak.
Saya suka jelasin gini ke temen: diesel itu seperti atlet angkat besi yang kuat tapi santai. Dia nggak perlu teriak-teriak (RPM tinggi) buat bawa beban.
baca juga : Memahami Fungsi Dwell Tester untuk Mesin Anda
Poin-poin kunci keunggulan diesel:
- Rasio kompresi jauh lebih tinggi (16:1 sampai 25:1) dibanding bensin (9:1–12:1). Ini bikin pembakaran lebih efisien, panas berubah jadi tenaga, bukan asap sia-sia.
- Diesel pakai compression-ignition (nyala sendiri karena panas kompresi), nggak butuh busi. Hasilnya? Lebih irit energi.
- Nggak ada throttle valve (katup gas). Jadi minim pumping loss saat cruising stabil. Bensin? Harus “berjuang” narik udara lewat throttle yang setengah tertutup.
- Torsi gede di RPM rendah (1500–2500 RPM). Kamu tinggal masuk gigi tinggi, jalan 100–120 km/jam tanpa mesin ngos-ngosan.
Dari pengalaman saya, mobil diesel modern di tol bisa 20–40% lebih irit daripada varian bensin sekelas. Contoh nyata: Innova Reborn diesel sering tembus 14–16 km/liter di tol, sementara bensin sekitar 10–13 km/liter.
Bensin Bisa Saingan Nggak?
Jujur aja, bensin modern (terutama yang turbo + direct injection) sekarang sangat irit di kota. Saya punya temen yang pakai SUV bensin turbo, di macet Jakarta dia bisa 12–14 km/liter. Keren!
Tapi kalau jarak jauh tol konstan? Diesel masih unggul. Bensin harus naik RPM lebih tinggi buat hasilkan torsi sama, apalagi pas nanjak atau lawan angin. Diesel? Santai aja, torsi melimpah tanpa perlu downshift sering.
Faktor Lain yang Sering Saya Pertimbangkan
- Berat mesin: Diesel lebih berat, tapi di tol datar, aerodinamika lebih dominan. Nggak terlalu masalah.
- AC nyala: Diesel lebih kuat nahan beban kompresor AC tanpa naik RPM banyak. Bensin lebih terasa borosnya.
- Biaya awal & servis: Diesel biasanya lebih mahal beli dan servis (filter Solar, oli khusus). Tapi kalau kamu sering jalan jauh, balik modal lewat hemat BBM.
Hitungan Kasar di Indonesia Sekarang (2026)
Misal trip 1000 km tol:
- Diesel (15 km/liter, Solar Rp6.800/liter) → butuh ±67 liter → sekitar Rp455.000.
- Bensin (12 km/liter, Pertalite Rp10.000/liter) → butuh ±83 liter → sekitar Rp830.000.
Selisih? Bisa Rp300–400 ribu sekali trip! Kalau sering touring, diesel jelas menang.
Apa sih sebenarnya Rasio Kompresi itu?
Bayangin piston di dalam silinder mesin lagi naik-turun. Saat piston turun ke posisi paling bawah (Titik Mati Bawah atau TMB), volume ruang di atas piston itu paling besar — termasuk ruang bakar + silinder penuh udara/bahan bakar.
Lalu piston naik ke posisi paling atas (Titik Mati Atas atau TMA), volume ruangnya menyusut jadi super kecil, cuma ruang bakar aja.
Rasio kompresi adalah perbandingan sederhana antara volume besar (TMB) dan volume kecil (TMA) itu. Rumusnya: Rasio Kompresi = Volume TMB ÷ Volume TMA
Contoh gampang: Kalau rasio 10:1, artinya volume udara dikompresi jadi 1/10 ukuran aslinya. Semakin tinggi angkanya, semakin “dipaksa” udara dipadatkan.
Saya suka analoginya kayak pompa sepeda: semakin kamu tekan keras (kompresi tinggi), semakin panas dan tekanan di dalamnya naik drastis.
Kenapa Rasio Kompresi Penting
Karena kompresi tinggi bikin suhu udara di ruang bakar melonjak tinggi sebelum pembakaran. Panas itu yang jadi kunci efisiensi.
- Di mesin bensin (spark-ignition): Ada busi yang nyalain campuran udara + bensin. Kalau kompresi terlalu tinggi, campuran bisa nyala sendiri sebelum busi nyala (disebut knocking atau detonasi). Ini bikin mesin rusak atau ngelitik. Makanya rasio kompresi bensin biasanya rendah: 9:1 sampai 12:1 (mesin turbo modern bisa 10:1–11:1).
- Di mesin diesel (compression-ignition): Nggak ada busi! Bahan bakar diesel disuntik pas udara sudah super panas karena kompresi tinggi. Panas itu otomatis nyalain solar. Jadi diesel butuh kompresi tinggi banget supaya suhu mencapai 500–700°C untuk ignisi sendiri. Biasanya 14:1 sampai 25:1 (truk besar bahkan bisa 20:1+).
Hasilnya? Diesel bisa ubah energi bahan bakar jadi tenaga lebih efisien — sering 30–40% lebih irit di jarak jauh.
Contoh nyata di Mobil Indonesia
- Mesin bensin Avanza atau Sigra: sekitar 10:1–11:1 → aman pakai Pertalite/RON 90.
- Mesin diesel Hilux atau Pajero Sport: sekitar 16:1–18:1 → Solar subsidi langsung nyala sendiri tanpa busi.
- Kalau mesin bensin modern turbo (misal HR-V Turbo): rasio bisa 10.5:1 tapi dikontrol ECU supaya nggak knocking.
Keuntungan & kerugian rasio tinggi
Keuntungan (terutama diesel):
- Efisiensi termal lebih tinggi → lebih banyak tenaga dari setiap tetes BBM.
- Torsi lebih besar di RPM rendah.
- Konsumsi BBM lebih hemat saat cruising.
Kerugian:
- Mesin harus lebih kuat (blok, piston, dll) → lebih berat & mahal.
- Getaran & suara lebih kasar.
- Emisi NOx lebih tinggi kalau nggak pakai after-treatment.
Kesimpulan
Kalau kamu tipe yang suka road trip antar kota/provinsi, pilih diesel. Efisiensi termal superior, torsi rendah-RPM, dan harga Solar subsidi bikin dia raja irit jarak jauh.
Tapi kalau lebih banyak muter di kota atau jarang jalan jauh, bensin lebih praktis: murah beli, servis gampang, suara halus.
Kamu sendiri biasa pakai yang mana? Cerita dong pengalaman road trip-mu!
FAQ Singkat
- Nanjak lebih boros bensin? Ya, bensin harus RPM tinggi buat tenaga ekstra. Diesel santai pakai torsi besar.
- Bensin turbo modern bisa ngalahin diesel? Di kota iya, tapi di tol jarak jauh diesel masih unggul.
- Kenapa Solar lebih murah? Karena subsidi pemerintah buat logistik & industri.
- AC bikin beda? Iya, diesel lebih tahan beban AC tanpa boros parah.
- Apa itu pumping loss? Energi terbuang di mesin bensin saat throttle setengah tertutup (saat cruising). Diesel nggak punya masalah ini.
Demikian artikel singkat mengenai Bensin vs Diesel, Siapa Raja Irit untuk Perjalanan Jarak Jauh, semoga bermanfaat. simak artikel kami lainnya dibawah :
Please Share This Article
